Tampilkan postingan dengan label gaya hidup islami. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label gaya hidup islami. Tampilkan semua postingan

27.11.10

Riyadhah 40 hari ( Wisata Hati )

Lagi susah? Punya hajat? Coba ngebut di Riyadhah 40 hari... Sekalian jadi upaya tolak bala dan bencana buat negeri kita...
  • 40 hari jaga berjamaah, di masjid, tanpa ketinggalan takbir pertama imam. Bila Anda adalah perempuan, minta izin sama suami, atau jalan sama muhrim. Kalo ga aman, jangan. Ga apa-apa di rumah. Tapi standby sebelom azan.
  • 40 hari jaga dhuha dan shalat malam. 40 hari jaga qobliyah ba'diyah.
  • 40 hari jaga senen kamis, syukur-syukur bisa puasa daud, sehari puasa sehari engga.
  • 40 hari baca waaqi'ah saban habis shubuh dan habis ashar, yaasiin saban habis isya, dan al mulk saban jelang tidur. Di antara itu, khatamin Qur'an. Ga usah 40 hari khatam. Yang penting ada usaha ngatamin.
  • Awali dengan sedekah yang besar, yang bernilai, yang sebelomnya susah untuk dikeluarkan. Yang beda lah pokoknya.
  • 40 hari baca laa hawla walaa quwwata illaa billaah 300x, bebas jamnya, pokoknya 300x. Istighfar harian 100x, shalawat 100x.
  • Tetap kerja, tetap dagang, tetap belajar, tetap beraktifitas seperti biasa. Hanya jadiin ibadah, dengan awal baca bismillah dan selesainya baca alhamdulillah.
  • Saban habis shalat, baik yang wajib dan sunnah, berdoa. Doa masing-masing. Boleh bahasa indonesia.
UDAH BANYAK "ALUMNI" RIYADHAH YANG BERHASIL. Buktiin aja. Sebar dah informasi ini ya. Supaya amalan orang JADI MILIK ANDA.
Salam, Yusuf Mansur.

Sumber: Wisatahati.com Ust Yusuf Mansur

7.11.10

Keluarga islami, keluarga bahagia

Dan dari tanda-tanda-Nya Dia menciptakan bagimu dari dirimu pasangan agar ... Ar Rum2
Begitulah gambaran ayat suci bagi betapa dalamnya hubungan suami isteri, dan diyakinkan bagi kita betapa perkawinan yang bahagia adalah perkawinan yang tentram dan sakinah serta adanya rahmah pada keduanya, hanya saja makna mulya dari perkawinan tadi mulai memudar disebabkan adanya pertikaian antara suami isteri dan tingginya perceraian di Negara kita dan apa yang ditimbulkan dari perpecahan keluarga. Suami dan isteri merupakan dua belah dari rumah tangga, bila keduanya dapat menjalankan tugasnya, sebagaimana keluarga dapat berkembang bila keduanya dapat menjalankan kewajibannya suami isteri, dan keduanya hidup dalam rumah tangga yang dihiasi lahirnya dengan kewibawaan dan bathinnya dihiasi dengan saling menjaga, oleh karena itu kami persembahkan petunjuk ini untuk mencapai kebahagian suami isteri.

Untuk mencapai kebahagian suami isteri
·        Lemah lembut dalam ucapan dan pergaulan serta memperlakukan dengan transparan serta menjaga perasaan pasangannya.
·        Saling menghormati antara pasangan suami isteri dan tidak menghina atau menjelek-jelekkan pasangannya serta memberikan nasehat dengan cara yang baik dan tidak melukai perasaannya.
·        Memperhatikan penampilan masing-masing keduanya, maka jadilah kamu pengantin baru bagi pasanganmu setiap malam, dan berhiaslah dengan pakaian dan parfum yang disukainya.
·        Pergunakanlah kata-kata indah, pujian dan penghormatan antara suami isteri pada setiap saat agar menjadi refresh bagi kehidupan suami isteri dan akan menambah sentuhan cinta pada keduanya.
·        Senyum yang dilandasi dengan cinta dan perasaan yang tulus setiap bertemu pasangannya.
·        Berusaha untuk merefresh penampilan dan ucapan, karena perkawinan adalah merupakan wasilah untuk mendekatkan diri pada Allah.

Peringatan bagi suami isteri
·        Yang didapat oleh seorang mukmin setelah takwa kepada Allah adalah isteri yang shalehah, bila diperintah dia mentaati, bila dipandang dapat membahagiakan, bila dibagikan dia berbuat baik baginya, dan bila dia jauh darinya dia menjaga dirinya dan hartanya. HR.Ibnu Majah.
·        Rasulullah ditanya tentang hak isteri, Beliau bersabda : hendaknya kamu memberikan makan bila anda makan, memberikannya pakaian bila anda berpakaian dan anda tidak memukul wajahnya, tidak menjelek-jelekkan dan tidak menjauh darinya kecuali ketika dia dalam rumah. HR.Abu Daud
·        Dan pergaulilah mereka (isteri-isteri) dengan baik, bila kamu membenci mereka.... An Nisa' 19
·        Berwasiatlah terhadap wanita dengan baik. HR.Bukhari dan Muslim.
·        Dan janganlah kalian melupakan kelebihan salah satu dari kalian. Al Baqarah 237
·        An Nisa' 35
·        Sesungguhnya nikah yang banyak berkahnya adalah yang paling murah biayanya. Imam Ahmad


Cara-cara untuk memecahkan perbedaan dalam keluarga
·        Pahamilah perkara itu, apakah itu perbedaan atau hanya sekedar salah paham saja, menyampaikan sesuatu dengan jujur dapat membantu menghilangkan kesalah pahaman.
·        Koreksilah dirimu, kembali pada diri sendiri dan mengkoresksinya itu lebih utama dan lebih banyak faedahnya, dan ketahuilah bahwa tidak akan turun bala' kecuali atas dosa yang diperbuat, dan diantara bala' itu adalah perbedaan yang terjadi dengan orang yang dicintai.
·        Jangan mengembangkan perbedaan tapi persempitlah agar tidak menyebar diantara orang-orang atau keluar dari batasan, dan bersabarlah terhadap tabiat-tabiat asli suami isteri.
·        Batasilah perbedaan dan fokoskan pada satu permasalahan saja dan jangan membuka permasalahan lama serta ridha terhadap pemberian Allah.
·        Ingatlah titik persamaan antara kalian berdua itu akan membuat hati menjadi lembut dan menjauhkan dari syetan.

Dia (laki-laki) kututup-tutupi segala lelahku darimu, tujuanku hanya membuatmu senang.
Dia (perempuan) kebersamaanku denganmu dalam segala cobaan merupakan puncak hubungan dalam cinta.




Anak kecil bagaikan adonan, bagaikan ranting pohon yang basah, semampu anda dapat anda mengarahkannya kemana anda suka, bila ranting itu telah kering dan telah berbentuk, maka menjadi susah untuk meluruskannya, karena itu akan membuatnya patah, begitulah kenyataannya.


Bagaimana menghadapi anak kecil yang nakal…..?
Anak nakal merupakan masalah yang membuat keluarga itu susah, dan inilah yang paling banyak menyebabkan permalasalahan keluarga dijalanan dengan tetangganya, disekolah dengan teman-teman dan guru-gurunya, dan di club dengan para sahabatnya.

Siapakah itu anak nakal itu ?
Anak nakal adalah anak yang membuat susah orang sekelilingnya untuk bergaul dengannya, dia dapat membangkitkan kemarahan terutama pada kedua orang tuanya dirumah, hingga keduanya terpaksa menggunakan kekerasan supaya tidak nakal lagi.

Anak nakal sedikit konsentrasinya, banyak gerak, banyak bicara dengan suara yang keras, dia tidak stabil perasaannya dan mudah berubah-ubah.

Cara menghadapi anak nakal..
v    Pentingnya memberikan waktu yang tepat dirumah, seperti cinta, kasih sayang, kelemah lembutan, ketenangan dan kestabilan hingga anak itu tumbuh dengan sempurna.
v    Kedua orang tua hendaknya tidak melakukan pertikaian dan teriakan dihadapan anak itu.
v    Kedua orang tua jangan membadingkan-bandingkan dihadapan orang lain, serta bangga dan memperolok-oloknya hingga dia tidak merasa lebih rendah, kurang dan merasa tidak enak.
v    Kedua orang tua jangan menyiksa dan memukul ketika anak itu bersalah, tapi bagi keduanya hendaknya memerikan pengarahan dengan cara yang bijak.
v    Diberikan toleransi yang luas didalam rumah.
v    Meminta saran pada dokter kejiwaan yang akan memberikan manfaat dalam mengatasi diri serta cara menguasainya.
v    Jangan menuruti semua permintaan anak dalam seketika, hingga anak itu tidak menjadikan tangis dan teriakan sebagai perantara untuk mendapatkan semua permintaannya.
v    Memberikan dorongan agar anak itu mengisi waktu kosongnya dengan bermain dengan teman-temannya.
v    Pengawasan yang berkesinambungan terhadap anak dirumah dan disekolah, agar dapat berbuat secara dini bila terjadi sesuatu.


Ketegangan antar suami isteri dan bagaimana cara mengatasinya
Dalam kehidupan suami isteri ada titik yang sangat riskan yang dapat menyebabkan ketegangan antar keduanya, kadang juga dapat membangkitkan kemarahan atau kekesalan. Dan barang siapa yang tidak dapat mengatasinya detik-detik ini dengan pikiran yang jernih, tenang dan sabar serta mampu melihat situasi dengan lapang dada dan penuh toleran, maka itu mungkin ketegangan itu akan memancing pasangannya untuk berbuat serupa hingga akan menyesal dikemudian hari.

Pertama       : Perbuatan yang dapat membangkitkan kemarahan suami, bagaimana isteri dapat mengatasinya perlakuan itu ?
1.     Menyebarkan rahasia-rahasia pribadinya.
-         Isteri hendaknya memahami kemauan suami dan menghormati keperluan dan kepribadiannya.
-         Berusaha untuk memuaskannya dengan alasan-alasan yang tepat dan tenang kenapa dia melakukan itu.
-         Berjanji terhadap suami untuk tidak melakukan kesalahan-kesalahan itu kembali.

2.     Tidak mempedulikan kebersihan rumah dan anak-anak..
-         Menjelaskan sebab-sebab yang membuat isteri tidak menjaga kebersihan rumah.
-         Jelaskan padanya bahwa kejadian ini hanya sementara saja.
-         Berjanji untuk menjaga ketertiban rumah.

3.     Bertemu dengan orang-orang yang tidak disukai tanpa seizin suami..
-         Isteri hendaknya menghargai kemauan suami dan memahami kenapa dia menolak itu.
-         Alasan penolakan suami adalah hal yang positif.
-         Mengajaknya berbicara tentang sebab-sebab penolakannya hingga tercapai kepuasan.
-         Menjelaskan pada suami bahwa dia membutuhkan teman-teman sebagai kebutuhan yang utama.

4.     Perhiasan dan pakaian yang tidak sopan ketika keluar rumah..
-         Isteri menafsirkan penolakan suami dengan tafsir positif, artinya penolakan suami berarti cinta padanya dan ghirahnya yang tinggi.
-         Berusaha mendapatkan ridha suaminya semampu mungkin karena itu merupakan diantara penyebab isteri masuk surga.

5.     Berbicara dengan cara yang dapat mengundang amarah serta tidak menerima pendapatnya…
-         Isteri hendaknya menggunakan cara yang tenang dalam berdialog.
-         Memilih tempat yang tepat untuk berdialog.
-         Memilih waktu yang tepat untuk berdialog, jangan memulai dialog dengan cara menyerang.
-         Selalu memilih dalam memulai dialog dengan kata-kata yang dapat menenangkan perasaan.

6.     Menemui keluarganya dengan cara yang kurang sopan…
-         Memaparkan sebab kenapa anda berbuat demikian terhadap keluarganya.
-         Berdialog dengan suami dengan tenang.
-         Berusaha membangun hubungan yang baik dengan keluarga suami serta tidak memutuskan hubungan dengannya.

7.     Menggunakan telephon secara terus menerus tanpa mempedulikan keberadaan suami dirumah…
-         Isteri berusaha mengetahui tabiat suami.
-         Mencari penyebab serta menerangkannya dengan tenang.

Perbuatan yang membuat isteri marah, bagaimana cara menghadapinya ?
1.     Suami pulang terlambat kerumah…
-         Suami hendaknya menghormati kemauan isteri, serta kebutuhannya sebagai suami dan kepala rumah tangga.
-         Suami hendaknya berusaha agar tidak apriori dan memberikan waktunya untuk keperluan anggota keluarga.
-         Suami hendaknya berusaha menafsirkan kemarahan isteri dengan tafsir yang positif, artinya kemarahannya timbul karena cintanya pada suami dan karena dia membutuhkannya, bukan karena curiga dalam tingkah laku suami.

2.     Ketika membuat masalah tanpa ada penyebabnya….
-         Suami yang membuat masalah tanpa adanya penyebab, mungkin karena dia sedang penat, maka dia harus berkonsultasi dengan seorang ahli untuk menurunkan kepenatannya.
-         Banyak yang dapat diambil ketika berkonsultasi dengan ahli, diantaranya, kenyamanan dan menguasai diri.

3.     Menolak satu permintaan…
-         Suami hendaknya menjelaskan alasan penolakannya.
-         Suami hendaknya berdialog dengan  isteri tentang sebab-sebab penolakannya, contoh ( karena saking sayangnya pada isteri).
-         Suami hendaknya berusaha mendapatkan cara-cara lain ketika menolak permintaannya.

4.     Ketika dia tidak tahu-menahu perasaan isterinya…
-         Suami hendaknya menerangkan dengan tenang serta berdialog dengan cara yang baik sebab-sebab ketidak tahu-menahuannya (karena sedang sakit, tekanan kerja, atau ada masalah pribadi).
-         Suami hendaknya menjelaskan pada isteri tentang kepribadian setiap laki-laki serta kebutuhannya, kadang-kadang apriori.
-         Suami hendaknya menjelaskan pada isteri bahwa ketidak tahu-menahuannya hanya sementara.

5.     Terlalu sibuk dengan tv dan tidak memperdulikan isterinya…
-         Suami hendaknya menghormati perasaan dan kemauan isterinya, bila dia ingin menonton acara tv, maka dia hendaknya menjelaskannya pada isterinya, kemudian menjanjikan pada isterinya bahwa setelah selesai acara itu dia akan memperhatikan dan mendengarkan isterinya.
-         Suami hendaknya tidak apriori dan memberikan waktunya untuk keperluan anggota keluarganya.
-         Suami hendaknya menghargai keperluan isterinya dan tidak meremehkannya, karena kepuasan jiwa lebih penting dari kepuasan lainnya.

6.     Terlalu dingin pada saat dia membutuhkan kehangatan..
-         Suami hendaknya berusaha menjelaskan pada isteri, bahwa permasalahan itu tidak membutuhkan ketegangan.
-         Suami hendaknya aktif dalam memperhatikan permasalahan isterinya.
-         Suami hendaknya menjelaskan betapa dia sangat memperhatikan permasalahan itu.

7.     Tidak terus terang dalam perkara yang ada sangkut paut antar suami isteri….
-         Hendaknya suami menjadi pendengar setia, menjelaskan sebab-sebab tidak ikut campurnya.
-         Suami hendaknya membiasakan dirinya untuk take and give.
-         Suami hendaknya membiasakan dirinya untuk duduk bersama seminggu sekali serta berterus terang dalam membahas permasalahan bersama.
-         Sehingga isteri merasa bahwa pendapatnya dalam permasalahan bersama sangatlah penting dan hendaknya suami menghormati pendapatnya walaupun suami tidak meminta pendapat itu.

Diterjemahkan oleh : Abdul Latief Sukyan.
Dari : Social Support Center
General Head Quarter Of Abu Dhabi Police.

Islam tidak disebarkan dengan pedang

 Kebohongan yang sering dipropagandakan oleh musuh-musuh Islam bahwa Islam berdiri diatas pedang dan para pemeluknya masuk bukan dengan jalan rela dan pilihan sendiri, tapi mereka memeluk Islam dengan jalan paksa dan kekerasan, para musuh Islam itu mengambil kesimpulan bahwa disyariatkannya jihad dalam Islam sebagai dasar dari kebohongan mereka itu, jauh dan sangat jauh perbedaannya antara pensyariatan jihad dengan pemaksaan manusia untuk memeluk Islam, karena pensyariatan jihad bukan untuk tujuan nista ini, tapi demi kepentingan yang mulya dan demi tegaknya hukum.

Pernyataan diatas sering dikemukakan oleh orientalis dan para misionaris yang sengaja ingin merusak citra Islam dan Nabinya dengan selalu menyebarkan pendapat : lihatlah ? Muhammad itu telah berdakwah dengan perang, dan berjihad dijalan Allah yaitu memaksa manusia dengan pedang untuk memeluk agama Islam, lain halnya dengan Al Masih yang selalu mengajak pada perdamaian dan membenci peperangan, dan selalu mengajak pada toleransi dan menjalin ikatan antar sesama dengan tali persaudaraan dijalan Allah dan Al Masih.

Dengan jujur kita katakan : bahwa sebagian orientalis tidak percaya dengan kebohongan diatas, mereka melihat bahwa jihad adalah untuk menjaga dakwah itu, mempertahankan dari serangan musuh, dan sesungguhnya tidak ada paksaan dalam agama. Sesungguhnya Islam masuk kedalam hati mereka dengan toleransi ajarannya : dalam aqidah, ibadah, akhlak, muamalah dan adabnya baik dimasa damai ataupun perang, dan keadilan politik yang tercermin dalam pemimpin dan rakyatkya, dan rahmatnya yang menyeluruh, kemanusiaannya yang diterapkan ketika masa pembebasan daerah-daerah, sesungguhnya Islam adalah agama yang sesuai dengan fitrah yang diciptakan Allah Swt, hingga tidak perlu heran bila banyak jiwa-jiwa yang memeluk Islam, karena itu sesuai dengan fitrah, banyak yang berjuang dijalannya dengan tabah terhadap siksaan yang teramat pedih demi tegaknya ajaran itu.

Rasulullah Saw tinggal di Makkah selama 13 tahun, Beliau berdakwah dengan hujjah dan ungkapan yang baik, banyak yang masuk Islam pada masa itu dari golongan orang-orang yang terhormat dan lainnya, dan kebanyakan yang memeluk Islam pada masa itu adalah kaum fakir, dan Rasulullah tidak mempunyai kekayaan untuk membujuk mereka agar masuk dalam Islam, tapi mereka para pemeluk Islam selalu sabar dalam menghadapi siksaan dan mereka bertahan menjaga keyakinan mereka, tapi cobaan yang mereka terima justeru menambah keyakinan mereka untuk membela yang hak, mereka adalah pahlawan akidah walaupun mereka miskin, kita tidak pernah mendengar mereka keluar dari Islam (murtad) karena tergoda oleh harta yang ditawarkan oleh kaum musyrik, tapi mereka bagaikan emas bila tertimpa api mereka semakin jernih dan bagus, mereka bagaikan besi yang terkena bara bertambah kuat, bahkan ada dari mereka yang merasakan kenikmatan dalam siksaan dan kemanisan dalam kepahitan.

Sebagian mereka berhijrah ke Habasyah, kemudian mereka melakukan hijrah besar yaitu hijrah ke Madinah, mereka tinggalkan keluarga, anak, harta, kampung halaman, mereka tabah menjalani keasingan, kemiskinan, dan Rasulullah tetap berdakwah tahun demi tahun dengan bijak dan dengan debat yang terbaik, banyak penduduk Madinah yang memeluk Islam sebelum hijrah dan sesudah hijrah dengan rela dan penuh kepuasan jiwa, tidaklah wajar bagi manusia yang mempunyai akal sehat serta membaca sejarah, dan berprasangka bahwa Nabi Saw dan kaum muslimin selama 14 tahun memaksa seseorang untuk memeluk Islam, kecuali orang yang buta akan sejarah dan tidak menggunakan akal sehatnya.

Sesungguhnya pensyariatan jihad dalam Islam bukan untuk memaksa seseorang untuk memeluk agama Islam sebagaimana tuduhan mereka, tetapi untuk mempertahankan aqidah dan menjaga kelanggengan dakwah itu, menjaga kaum muslimin, mempertahankan kebenaran dan menyebarkan kalimatullah dimuka bumi, maka lihatlah dalam firman Allah : Al Mumtahanah 8-9).

Islam selalu damai dengan orang yang ingin berdamai, dan tidak melarang melakukan perbuatan baik dan berbuat adil terhadap mereka, lebih jauh pendirian Islam terhadap orang-orang yang memerangi kaum muslimin dan mengusir mereka dari negerinya atau mempermudah mereka untuk memerangi atau mengusir kaum muslimin, Islam tidak mengajarkan berbuat dzalim terhadap mereka, tapi melarang untuk mengangkat mereka menjadi pemimpin atau menolong mereka. Lihat Al Baqarah 190).

diterjemahkan oleh : Abdul latief Sukyan

20.10.10

Seberapa kuat iman Anda?


Bertambah ataupun berkurangnya keimanan dipengaruhi banyak faktor. Salah satunya adalah lingkungan keimanan itu sendiri. Sudahkah keluarga, institusi pendidikan, dan masyarakat menjadi tempat yang bisa menyemaikan keimanan anak-anak kita?

Iman adalah nikmat Allah Subhanahu wa Ta’ala yang wajib disyukuri dan dijaga. Sehingga ketika ada orang yang meminta nasihat kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau menasihatkan untuk istiqamah di atas iman.


Dari Abu ‘Amr –ada yang menyatakan pula Abi ‘Amrah– Sufyan bin Abdillah radhiyallahu ‘anhu:
قُلْتُ: يَا رَسُولَ اللهِ، قُلْ لِي فِي الْإِسْلَامِ قَوْلًا لَا أَسْأَلُ عَنْهُ أَحَدًا غَيْرَكَ. قَالَ: قُلْ آمَنْتُ بِاللهِ ثُمَّ اسْتَقِمْ
Aku berkata kepada Rasulullah: “Wahai Rasulullah, sampaikanlah kepadaku satu perkataan yang aku tidak akan bertanya lagi setelahnya kepada selainmu.” Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Katakanlah aku beriman kepada Allah kemudian istiqamahlah.” (HR. Muslim)


Di antara keyakinan Ahlus Sunnah wal Jamaah, iman seseorang bisa bertambah dan berkurang. Hal ini berdasarkan banyak dalil dari Al-Qur`an dan As-Sunnah.


Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
الَّذِينَ قَالَ لَهُمُ النَّاسُ إِنَّ النَّاسَ قَدْ جَمَعُوا لَكُمْ فَاخْشَوْهُمْ فَزَادَهُمْ إِيمَانًا وَقَالُوا حَسْبُنَا اللَّهُ وَنِعْمَ الْوَكِيلُ
“Orang-orang (yang menaati Allah dan rasul), ada yang berkata kepada mereka: ‘Sesungguhnya manusia (yakni kaum musyrikin) telah berkumpul untuk menyerang kalian, karena itu takutlah kepada mereka’. Maka perkataan itu (justru) menambah keimanan mereka dan mereka menjawab: ‘Cukuplah Allah menjadi penolong kami dan Allah adalah sebaik-baik Pelindung’.” (Ali ‘Imran: 173)


إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ إِذَا ذُكِرَ اللهُ وَجِلَتْ قُلُوبُهُمْ وَإِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ ءَايَاتُهُ زَادَتْهُمْ إِيمَانًا وَعَلَى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ
“Sesungguhnya orang-orang yang beriman (dengan iman yang hakiki) ialah mereka yang bila disebut nama Allah, gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan ayat-ayat-Nya bertambahlah iman mereka (karenanya), dan hanya kepada Allah lah mereka bertawakal.” (Al-Anfal: 2)


وَأَمَّا الَّذِينَ فِي قُلُوبِهِمْ مَرَضٌ فَزَادَتْهُمْ رِجْسًا إِلَى رِجْسِهِمْ وَمَاتُوا وَهُمْ كَافِرُونَ
“Dan apabila diturunkan suatu surat, di antara mereka ada yang berkata: ‘Siapakah di antara kalian yang bertambah imannya dengan (turunnya) surat ini?’ Adapun orang-orang yang beriman maka surat ini menambah imannya dan mereka merasa gembira.” (At-Taubah: 125)


وَلَمَّا رَأَى الْمُؤْمِنُونَ الْأَحْزَابَ قَالُوا هَذَا مَا وَعَدَنَا اللهُ وَرَسُولُهُ وَصَدَقَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ وَمَا زَادَهُمْ إِلَّا إِيمَانًا وَتَسْلِيمًا
“Dan tatkala orang-orang mukmin melihat golongan-golongan yang bersekutu itu, mereka berkata: ‘Inilah yang dijanjikan Allah dan Rasul-Nya kepada kita, dan benarlah Allah dan Rasul-Nya.’ Yang demikian itu tidaklah menambah kepada mereka kecuali iman dan ketundukan.” (Al-Ahzab: 22)


هُوَ الَّذِي أَنْزَلَ السَّكِينَةَ فِي قُلُوبِ الْمُؤْمِنِينَ لِيَزْدَادُوا إِيمَانًا مَعَ إِيمَانِهِمْ وَلِلَّهِ جُنُودُ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِ وَكَانَ اللهُ عَلِيمًا حَكِيمًا

“Dia-lah yang telah menurunkan ketenangan ke dalam hati orang-orang mukmin supaya keimanan mereka bertambah di samping keimanan mereka (yang telah ada). Dan kepunyaan Allah-lah tentara langit dan bumi dan adalah Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (Al-Fath: 4)

وَمَا جَعَلْنَا أَصْحَابَ النَّارِ إِلَّا مَلَائِكَةً وَمَا جَعَلْنَا عِدَّتَهُمْ إِلَّا فِتْنَةً لِلَّذِينَ كَفَرُوا لِيَسْتَيْقِنَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ وَيَزْدَادَ الَّذِينَ ءَامَنُوا إِيمَانًا
“Dan tiada Kami jadikan penjaga neraka itu melainkan dari malaikat, dan tidaklah Kami menjadikan bilangan mereka itu melainkan untuk menjadi cobaan bagi orang-orang kafir, supaya orang-orang yang diberi Al-Kitab menjadi yakin dan supaya orang yang beriman bertambah imannya.” (Al-Muddatstsir: 31)


Adapun hadits-hadits yang menunjukkan masalah ini banyak sekali. Di antaranya hadits Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Aku mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَرًا فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ، فَإِنْ لـَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ، فَإِنْ لـَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ، وَذَلِكَ أَضْعَفُ الْإِيمَانِ
“Barangsiapa di antara kalian melihat satu kemungkaran hendaklah mengubah dengan tangannya. Jika tidak mampu maka dengan lisannya. Jika tidak mampu maka dengan hatinya dan itulah selemah-lemahnya iman.” (HR. Muslim)


Dalam riwayat lain Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata:
مَا رَأَيْتُ مِنْ نَاقِصَاتِ عَقْلٍ وَدِينٍ أَذْهَبَ لِلُبِّ الرَّجُلِ الْحَازِمِ مِنْ إِحْدَاكُنَّ
“Tidaklah aku melihat ada orang yang kurang akal dan agamanya yang membuat goyah hati lelaki yang kokoh selain salah seorang kalian (kaum wanita).”


Di antara dalil masalah ini adalah hadits Jundub bin Abdillah radhiyallahu ‘anhu:
كُنَّا مَعَ النَّبـِيِّ n وَنَحْنُ فِتْيَانٌ حَزَاوِرَةٌ فَتَعَلَّمْنَا الْإِيمَانَ قَبْلَ أَنْ نَتَعَلَّمَ الْقُرْآنَ ثُمَّ تَعَلَّمْنَا الْقُرْآنَ فَازْدَدْنَا بِهِ إِيمَانًا
“Kami bersama Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ketika itu kami para pemuda yang sebaya. Kami belajar iman sebelum belajar Al-Qur`an. Kemudian kamipun belajar Al-Qur`an dan bertambahlah iman kami.” (HR. Ibnu Majah)


Asy-Syaikh Al-Hakami rahimahullahu berkata: “Ini adalah ijma’ para imam yang teranggap ijma’nya. Mereka menyatakan bahwa iman itu bertambah dan berkurang.” (Ma’arijul Qabul)
Diriwayatkan oleh Al-Imam Al-Ajurri bahwa Sufyan bin ‘Uyainah berkata: “Iman itu ucapan dan amalan, bertambah dan berkurang.” Saudara beliau, Ibrahim bin ‘Uyainah berkata: “Wahai Abu Muhamad (nama kunyah Sufyan bin Uyainah, red.), jangan engkau katakan bertambah dan berkurang.” Ibnu ‘Uyainah pun marah dan berkata: “Diamlah wahai anak kecil! Bahkan iman bisa berkurang hingga tidak tersisa di hatinya sedikitpun.”


Sebagian salaf berkata: “Di antara wujud pemahaman seseorang adalah senantiasa menjaganya dari kekurangan. Di antara wujud pemahaman seseorang adalah dia tahu apakah imannya bertambah atau berkurang. Dan di antara wujud pemahaman seseorang adalah dia tahu godaan setan yang mendatanginya.” (Syarah Nuniyyah)

Bertambahnya Iman dengan Ketaatan
Menurut keyakinan Ahlus Sunnah, bertambahnya iman seseorang itu dengan ketaatan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Semakin dia taat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, maka semakin kuat keimanannya.


Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullahu berkata: “Sebab bertambahnya iman ada empat:
1. Mengenal Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan nama-nama dan sifat-sifat-Nya. Karena, semakin seorang mengenal Allah Subhanahu wa Ta’ala, nama-nama, serta sifat-sifat-Nya akan semakin bertambah keimanannya.
2. Melihat ayat-ayat Allah Subhanahu wa Ta’ala yang kauniyah maupun syar’iyah.
3. Banyak berbuat taat dan kebaikan. Karena amalan termasuk dalam iman, sehingga banyak melakukan amal baik akan memperbanyak/meningkatkan keimanan.
4. Meninggalkan maksiat dengan niat taqarrub (mendekatkan diri) kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.” (Diringkas dari Syarh Al-Ushul Ats-Tsalatsah)

Sebab Lemahnya Iman
Menurut keyakinan Ahlus Sunnah, berkurangnya iman disebabkan maksiat yang dilakukan seseorang. Semakin banyak maksiat dilakukannya, akan semakin mengurangi keimanannya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
كَلَّا بَلْ رَانَ عَلَى قُلُوبِهِمْ مَا كَانُوا يَكْسِبُونَ
“Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutupi hati mereka.” (Al-Muthaffifin: 14)
Setiap kali seseorang berbuat maksiat, akan dititik hitam di hatinya sebagaimana diriwayatkan dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.


Kami akan sebutkan beberapa perkara yang sangat berpengaruh dalam turunnya keimanan seseorang.
Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullahu berkata: “Sebab berkurangnya iman ada empat:
1. Berpaling dari mengenal Allah Subhanahu wa Ta’ala, nama-nama, dan sifat-sifat-Nya.
2. Berpaling dari melihat ayat-ayat Allah kauniyah dan syar’iyah, karena hal itu akan menyebabkan kelalaian dan kerasnya hati.
3. Kurang beramal shalih.
4. Berbuat maksiat.” (Diringkas dari Syarh Al-Ushul Ats-Tsalatsah)

Perlu diketahui di sini, ada amalan-amalan yang sangat memengaruhi keimanan seseorang namun dianggap sepele oleh banyak orang. Di antaranya:


1. Jauh dari lingkungan dan suasana iman.
أَلَمْ يَأْنِ لِلَّذِينَ ءَامَنُوا أَنْ تَخْشَعَ قُلُوبُهُمْ لِذِكْرِ اللهِ وَمَا نَزَلَ مِنَ الْحَقِّ وَلَا يَكُونُوا كَالَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ مِنْ قَبْلُ فَطَالَ عَلَيْهِمُ الْأَمَدُ فَقَسَتْ قُلُوبُهُمْ وَكَثِيرٌ مِنْهُمْ فَاسِقُونَ
“Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk tunduk hati mereka mengingat Allah dan kepada kebenaran yang telah turun (kepada mereka), dan janganlah mereka seperti orang-orang yang sebelumnya telah diturunkan Al-Kitab kepadanya. Kemudian berlalulah masa yang panjang atas mereka lalu hati mereka menjadi keras. Dan kebanyakan di antara mereka adalah orang-orang yang fasik.” (Al-Hadid: 16)
Lingkungan merupakan faktor terpenting dalam memelihara dan memupuk keimanan. Lingkungan yang beriman akan menambah keimanan, dan lingkungan yang jelek akan merusak keimanan seseorang.
Dalil yang paling menunjukkan akan hal ini adalah disyariatkannya hijrah dari negeri kafir ke negeri muslim. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
إِنَّ الَّذِينَ تَوَفَّاهُمُ الْمَلاَئِكَةُ ظَالِمِي أَنْفُسِهِمْ قَالُوا فِيمَ كُنْتُمْ قَالُوا كُنَّا مُسْتَضْعَفِينَ فِي اْلأَرْضِ قَالُوا أَلَمْ تَكُنْ أَرْضُ اللهِ وَاسِعَةً فَتُهَاجِرُوا فِيهَا فَأُولَئِكَ مَأْوَاهُمْ جَهَنَّمُ وَسَاءَتْ مَصِيرًا. إِلاَّ الْمُسْتَضْعَفِينَ مِنَ الرِّجَالِ وَالنِّسَاءِ وَالْوِلْدَانِ لاَ يَسْتَطِيعُونَ حِيلَةً وَلاَ يَهْتَدُونَ سَبِيلاً. فَأُولَئِكَ عَسَى اللهُ أَنْ يَعْفُوَ عَنْهُمْ وَكَانَ اللهُ عَفُوًّا غَفُورًا
“Sesungguhnya orang-orang yang diwafatkan malaikat dalam keadaan menganiaya diri sendiri, malaikat bertanya (kepada mereka): ‘Dalam keadaan bagaimana kamu ini?’ Mereka menjawab: ‘Kami orang-orang yang tertindas di negeri (Makkah).’ Para malaikat berkata: ‘Bukankah bumi Allah itu luas, sehingga kamu dapat berhijrah di bumi itu?’ Orang-orang itu tempatnya neraka Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali. Kecuali mereka yang tertindas baik laki-laki atau wanita ataupun anak-anak yang tidak mampu berdaya upaya serta tidak mengetahui jalan (untuk hijrah). Mereka itu, mudah-mudahan Allah memaafkannya. Dan adalah Allah Maha Pemaaf lagi Maha Pengampun.”
Namun disayangkan, banyak di antara kaum muslimin yang tidak mengindahkan masalah ini dan justru melakukan amalan yang membahayakan iman mereka dan anak-anak mereka, yakni lebih memilih dan senang tinggal di negeri kafir.
Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-’Utsaimin rahimahullahu menerangkan: “Sesungguhnya tinggal di negeri kafir bahayanya amatlah besar terhadap agama seseorang. Membahayakan akhlak, tingkah laku, dan adabnya. Kami dan selain kami telah menyaksikan penyimpangan orang-orang yang tinggal di negeri kafir. Mereka pulang (dengan aqidah) yang berbeda ketika berangkat, pulang dalam keadaan sebagai orang fasik. Sebagian mereka pulang dalam keadaan murtad dari agamanya....” (Syarh Al-Ushul Ats-Tsalatsah)
Asy-Syaikh Shalih Fauzan berkata: “Diharamkan bagi seorang muslim menjadikan dirinya sebagai pembantu/pelayan orang kafir, karena dalam amalan tersebut terdapat unsur kekuasaan dan penghinaan orang kafir atas seorang muslim. Tinggal terus-menerus di negeri kafir juga haram karena akan membahayakan aqidah seorang muslim.” (Kitabut Tauhid, lishafil awal al-’ali hal.107)


Termasuk dalam masalah ini adalah bepergian ke negeri kafir untuk berlibur/melancong atau acara hiburan lainnya. Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullahu berkata: “Bepergian ke negeri kafir tidak diperbolehkan kecuali dengan tiga syarat:
1. Dia mempunyai ilmu untuk menolak syubhat (pemikiran yang menyimpang).
2. Dia punya agama yang mencegahnya dari syahwat.
3. Dia membutuhkannya.
Jika syarat-syarat ini tidak terpenuhi maka dia tidak diperbolehkan bepergian ke negeri kafir. Karena bepergian ke negeri kafir mengandung fitnah (cobaan), khawatir fitnah dan menghamburkan harta, karena seorang yang bepergian ke sana akan mengeluarkan dana yang tidak sedikit.” (Syarh Al-Ushul Ats-Tsalatsah)

2.Menjauh dari majelis ilmu (syar’i)
Dari Hanzhalah: Abu Bakr berjumpa denganku dan berkata: “Bagaimana kabarmu, wahai Hanzhalah?” Aku katakan: “Hanzhalah telah tertimpa kemunafikan!” Beliau berkata: “Subhanallah, apa yang kau ucapkan?” Aku katakan: “Ketika kita ada di sisi Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang memperingatkan tentang surga dan neraka, sepertinya kita melihat dengan mata kepala kita. Tapi jika kita pulang dari majelis Rasulullah, kita sibuk dengan istri dan anak serta mata pencaharian, maka kitapun banyak lupa.” Abu Bakr berkata: “Demi Allah, kitapun merasakan hal tersebut.” Maka akupun berangkat bersama Abu Bakr hingga masuk menemui Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Aku katakan: “Hanzhalah telah tertimpa kemunafikan, wahai Rasulullah!” Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata: “Ada apa ini?” Aku katakan: “Wahai Rasulullah, ketika kami ada di sisi Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang memperingatkan tentang surga dan neraka, sepertinya kami melihat dengan mata kami. Tapi jika kami pulang dari majelis Rasulullah, kami sibuk dengan istri dan anak serta mata pencaharian, maka kamipun banyak lupa.” Rasulullah berkata: “Demi Dzat yang jiwaku di tangan-Nya, jika kalian terus merasakan seperti keadaan berada di sisiku dan terus berdzikir, niscaya malaikat akan menyalami kalian di tempat tidur dan jalan-jalan. Akan tetapi wahai Hanzhalah, sesaat, sesaat.” (HR. Muslim)
Asy-Syaikh Al-Hakami rahimahullahu mengatakan: “Jika menjauh dari majelis ilmu berpengaruh kepada iman seseorang, lebih-lebih lagi jika tersibukkan dengan ilmu yang terkontaminasi oleh pemahaman kufur yang sengaja disusupkan.”

3. Teman yang jelek kelakuannya
Teman sangatlah berpengaruh pada keimanan seseorang. Karena Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata:
الْـمَرْءُ عَلَى دِينِ خَلِيلِهِ
“Seseorang di atas agama temannya.”
Di antara kesalahan kaum muslimin adalah menyerahkan pendidikan anak-anak mereka ke lembaga-lembaga yang tidak mementingkan aqidah. Bahkan sebagian mereka “menitipkan” anak mereka ke lembaga pendidikan yang notabene kafir atau mengirim anak mereka belajar di negeri kafir. Innalillahi wa inna ilahi raji’un. Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-’Utsaimin rahimahullahu menjelaskan:
“Macam kelima: Tinggal di negeri kafir untuk belajar. Ini sama dengan tinggal karena suatu kebutuhan, namun lebih berbahaya dan lebih dahsyat kerusakannya bagi agama dan akhlak pelakunya. Karena seorang pelajar akan merasa rendah derajatnya dan tinggi kedudukan gurunya. Sehingga menyebabkan dia mengagungkan guru-guru serta merasa puas dengan pemikiran, pendapat, dan perilaku guru-guru mereka serta kemudian mengikutinya, kecuali orang-orang yang Allah Subhanahu wa Ta’ala menjaganya dan yang seperti ini sedikit jumlahnya. Kemudian pelajar merasa butuh kepada gurunya sehingga menyebabkan dia mencari simpati dan basa-basi dengannya, dalam keadaan gurunya di atas penyimpangan dan kesesatan. Demikian juga, seorang pelajar di tempatnya belajar mempunyai teman-teman yang dijadikannya sahabat dekat. Dia mencintai, loyal, dan mengambil akhlak mereka….” (Syarh Al-Ushul Ats-Tsalatsah)
Demikianlah sebagian sebab menurunnya iman seseorang. Perlu diketahui pula bahwa berkurangnya iman, jika sampai menyebabkan meninggalkan perkara wajib atau melakukan perkara haram, merupakan keadaan yang berbahaya. Pelakunya tercela dan wajib bertaubat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan bersegera untuk mengobati dirinya. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata:
إِنَّ لِكُلِّ عَمَلٍ شِرَّةً وَلِكُلِّ شِرَّةٍ فَتْرَةٌ، فَمَنْ كَانَتْ شِرَّتُهُ إِلَى سُنَّتـِي فَقَدْ أَفْلَحَ وَمَنْ كَانَتْ فَتْرَتُهُ إِلَى غَيْرِ ذَلِكَ فَقَدْ هَلَكَ
“Setiap amalan ada masa semangatnya, dan masa semangat ada masa jenuhnya. Barangsiapa kejenuhannya dipalingkan kepada sunnahku berarti dia telah berbahagia, dan barangsiapa yang kejenuhannya tidak membawa dia kepada yang demikian maka dia telah binasa.” (HR. Ahmad, lihat Shahih At-Targhib)
Mudah-mudahan Allah Subhanahu wa Ta’ala senantiasa menjaga iman kita serta memberi taufiq kepada kita untuk senantiasa beramal shalih dan istiqamah di jalan-Nya. Allahumma amin.


Al-Ustadz Abu Abdillah Abdurrahman Mubarak 

18.10.10

Siapakah orang-orang yang dicintai Allah dan dido'akan malaikat?


1. Orang yang tidur dalam keadaan bersuci(telah berwudhu).
2. Orang yang duduk menunggu waktu sholat datang.
3. Orang yang berada di barisan shaf paling depan ketika sholat berjamma'ah.
4. Orang yang menyambung shaf pada saat sholat berjama'ah (menutup shaf yang lowong).
5. Ketika Imam selesai membaca Al-Fatihah, para malaikat mengucapkan "Amiin".
6. Orang yang dudukdi tempat sholatnya setelah selesai sholat.
7. Orang yang sholat berjamaa'ah di kala Shubuh dan Ashar.
8. Orang yang mendoakan saudaranya tanpa sepengetahuan orang yang didoakan.
9. Orang yang berinfak.
10. Orang yang makan sahur.
11. orang yang menjenguk orang sakit.
12. Orang yang mengajarkan kebaikan kepada orang lain walaupun itu sulit.

Demikaian ciri orang yang dicintai para malaikat, semoga Allah menjadikan anda bagian dari ummat yang dicintai Allah dan para malaikat.

Untuk apa kita diciptakan Allah

Soal 1:  Mengapa dan untuk apa Allah menciptakan kita?
Jawab:
Allah menciptakan kita agar kita beribadah kepada-Nya dan tidak mempersekutukan sesuatu pun dengan-Nya berdasarkan firman Allah:
Tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah pada-Ku  (adz-Dzariat:56)             
Dan sabda Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam:
Hak Allah atas hamba-Nya adalah supaya hamba itu beribadah kepada-Nya dan tidak mempersekutukan sesuatu pun dengan-Nya. (HR. Bukhari Muslim)
Soal 2:  Apa itu ibadah?
Jawab:
Ibadah adalah segala sesuatu yang dicintai Allah, baik perkataan maupun perbuatan, seperti berdoa, shalat, menyembelih hewan dan lain  sebagainya, seperti firman Allah subhanahu wa ta`ala:
Katakanlah:  Sesungguhnya shalatku, qurbanku, hidup dan matiku hanya untuk Allah Pencipta Alam, (al-An`am: 162)
Dan sabda Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam:
Tidaklah  mendekatkan diri hamba-Ku kepada-Ku dengan sesuatu pun yang lebih aku cintai kecuali apa yang Aku wajibkan kepadanya. (Hadits Qudsi riwayat Bukhari)
Soal 3:  Bagaimana kita beribadah kepada Allah?
Jawab:
Beribadah kepada Allah adalah sebagaimana yang diperintah Allah dan Rasul-Nya:
Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul-Nya dan janganlah  kalian rusak amal-amalmu. (Muhammad:  33)
Barangsiapa  yang beramal tanpa ada perintah dariku, maka ia tertolak.  (HR. Muslim)
Soal 4:  Haruskah kita beribadah kepada Allah dengan rasa takut dan harap?
Jawab:
Ya, demikianlah kita beribadah kepadaNya, sebagaimana Allah mensifati orang-orang mukmin:
Mereka  berdoa kepada Allah dengan rasa takut dan harap. (as-Sajdah: 16)
Dan sabda Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam:

Aku  memohon surga kepada Allah dan aku berlindung kepada-Nya dari neraka.(HSR. Abu Dawud)
Soal  5:  Apa yang dimaksud ihsan dalam beribadah?
Jawab:
Ihsan adalah mendekatkan diri kepada Allah dalam beribadah.Allah berfirman:

Dialah yang melihatmu ketika kamu berdiri (untuk shalat) dan (melihat pula) perubahan gerak-gerik badanmu di antara orang-orang yang  sujud. (asy-Syu`ara: 218-219)
Dan Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam bersabda:
Ihsan itu adalah kamu beribadah kepada Allah seakan-akan kamu melihat-Nya dan jika kamu tidak bisa melihat-Nya, sesungguhnya Dia melihatmu. (HR. Muslim)
Sumber:http://www.salafyoon.net


Agar Allah mnyempurnakan urusan dan menolong kita

Tunaikan hak Allah atas kita, sempurnakanlah urusan kita dengan Allah maka Allah akan menyempurnakan urusan kita, sesungguhnya orang-orang yang paling dermawan didunia adalah orang-orang yang menunaikan hak-hak Allah walaupun dalam hal lain manusia menilainya sebagia orang yang kikir, sesungguhnya orang yang paling kikir adalah orang-orang yang kikir terhadap hak-hak Allah walaupun orang lain melihatnya sebagai orang yang dermawan dalam hal lain. ( Wahab bin munabbih )


INILAH HAK ALLAH ATAS KITA SEMUA
Allah SWT. mempunyai hak yang sangat banyak atas hamba-hamba-Nya, diantaranya adalah:
1. Beriman kepada Allah
Beriman kepada Allah terangkum dalam 4 perkara:
a. Bahwa beriman dengan wujud Allah adalah perkara yang sesuai dengan petunjuk fitrah.
b. Maksud dari beriman kepada Rububiyyah Allah adalah: mengimani bahwa Allah adalah Esa dan Dia adalah Rabb yang tiada sekutu bagi-Nya, Dia adalah pencipta seluruh alam, Yang Mengatur, Yang Menghidupkan dan Mematikan, Dia adalah Yang Maha Pemberi rezeki Yang mempunyai Kekuatan lagi Sangat Kokoh. Dan tak ada satu pun yang mengingkari kerububiyyahan Allah kecuali orang yang sombong lagi keras kepala.
c. Maksud beriman kepada uluhiyyah Allah adalah: mengkhususkan peribadatan hanya untuk Allah
d. Maksud beriman kepada nama-nama dan sifat-sifat Allah adalah: menetapkan nama-nama dan sifat-sifat itu sesuai dengan yang telah ditetapkan Allah sendiri dalam Al Qur’an atau hadits, dari nama-nama dan sifat-sifat yang sesuai dengan makna yang pantas bagi Allah, tanpa adanya Tahrif (perubahan), Ta’thil (peniadaan), Takyif (menanyakan bagaimana) dan Tamtsil (penyerupaan).

2. Nasihat (berlaku ikhlas) kepada Allah
Suatu amalan akan diterima oleh Allah jika memenuhi 2 syarat, yaitu ikhlas dan benar (sesuai dengan Al Qur’an dan hadits). Maksud berlaku ikhlas kepada Allah adalah memperhatikan dengan sungguh-sungguh demi meraih kecintaan Allah dengan menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya, dan lebih mengutamakan Allah dengan melakukan segala sesuatu yang menimbulkan kecintaan-Nya, berupa amalan hati dan seluruh amalan anggota badan, serta menjadikan ibadahnya murni, hanya kepada-Nya dan tanpa menyekutukan-Nya.

3. Bersegera dalam bertaubat
Tidak ada yang mengetahui hari esok, karena itu bersegeralah di dalam bertaubat, jangan sampai menyesal. Bertaubatlah dengan taubat yang sebenar-benarnya, agar Allah mengampuni dosa-dosa kita.

4. Bersabar
Kesabaran itu ada 3 macam, yaitu sabar dalam menaati Allah, sabar dalam menjauhi yang diharamkan Allah, dan sabar atas takdir Allah, baik takdir yang baik maupun yang buruk.

5. Jujur kepada Allah
Jujur kepada Allah dalam setiap ibadah, ketaatan dan pendekatan diri adalah dengan menjadikan kesemua itu hanya untuk Allah, bukan untuk yang lainnya. Jujur kepada Allah akan menjadikan seseorang jujur di hadapan manusia.

6. Merasa selalu diawasi oleh Allah
Sudah seyogyanya bagi setiap orang agar menjadikan dirinya sebagai seorang hamba yang selalu merasa diawasi oleh Allah, merasa Allah selalu ada di dekatnya dan merasa bahwa dirinya selalu terlihat oleh Allah, sehingga ia akan merasa selalu melihat Allah, atau merasa Allah senantiasa melihat dan mengawasi gerak-geriknya.

7. Bertakwa kepada Allah
Takwa artinya menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Takwa itu tempatnya di hati. Akan tetapi, tidak mungkin ada seseorang yang mengaku bertakwa kepada Allah dalam batinnya, sedangkan lahiriahnya bermaksiat kepada Allah.

8. Bertawakkal kepada Allah
Tawakkal adalah jujur dalam menyandarkan hati kepada Allah di dalam mendatangkan kemaslahatan dan menolak kemudharatan dari semua urusan dunia dan akhirat. Tawakkal harus disertai dengan usaha. Tawakkal adalah salah satu dari buah (akibat) dari keyakinan. Sedangkan yakin adalah kekuatannya iman. Maka karena itulah seorang hamba seakan-akan bisa melihat dengan kedua matanya apa saja yang telah dikabarkan Allah dan Rasul-Nya sebagai buah dari keyakinannya yang mantap. Maka, keyakinan adalah kemantapan dan keimanan adalah sesuatu yang tidak diiringi oleh keraguan.

9. Istiqomah (konsisten) di atas agama Allah
Barangsiapa yang selama hidupnya beristiqomah dalam ketaatan kepada Allah dan terus-menerus seperti itu, maka dengan izin Allah , dia akan aman dari setiap kejahatan dan segala kesusahan, serta ia akan menjadi penghuni surga yang kekal di dalamnya.

10. Wajib tunduk kepada Allah, berhukum kepada-Nya serta bersungguh-sungguh mencurahkan jiwa untuk taat kepada-Nya
Allah berfirman:
“Barangsiapa yang tidak berhukum menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang fasik.” (QS. Al Maaidah: 47)

Keimanan seseorang tidak akan baik kecuali memenuhi 3 syarat:
a. Hendaknya setiap ada perbedaan pendapat, keputusannya dikembalikan kepada Allah
b. Hendaknya hatinya merasa lapang dengan hukum Allah ini, serta janganlah dadanya terasa sesak dan sempit karenanya
c. Hendaknya ia menyerahkan dirinya secara sempurna untuk menerima segala hukum yang diwajibkan kepadanya, serta melaksanakan hukum itu tanpa berat hati ataupun ragu-ragu

11. Mencintai Allah
Untuk bisa mencapai manisnya iman kita harus bisa mencintai Allah dan Rasul-Nya melebihi apapun, termasuk diri kita sendiri.
Termasuk cinta kepada Allah adalah menjadikan cinta dan bencinya hanya karena Allah, cinta terhadap kewajiban mengikuti Nabi dengan mentaati segala yang beliau perintahkan dan menjauhi segala yang beliau larang atasnya.

12. Hendaknya hamba menjadikan dirinya selalu dalam keadaan antara khauf (takut) dan raja’ (harap)
Imam Ahmad berkata menerangkan khauf dan raja’, “Seyogyanya setiap orang menjadikan khauf dan raja’nya menjadi satu. Apabila salah satu dari keduanya lebih unggul, maka orang tersebut akan binasa. Karena, jika pada sisi raja’ yang unggul maka ia hanya akan menjadi orang yang merasa aman dari azab Allah. Dan jika pada sisi khauf lebih unggul, maka ia akan menjadi orang yang putus asa dari rahmat Allah, dan keduanya adalah buruk. Akan tetapi, seyogyanya ia menjadikan khauf dan raja’nya satu.”

13. Hendaknya seluruh amalan hamba hanya untuk Allah
Hendaknya seorang hamba tidak berdoa, mendekatkan diri, meminta pertolongan, berkurban, meminta perlindungan, dan melakukan berbagai macam ibadah kecuali kepada Allah. Maka, setiap gerak dan diamnya adalah karena Allah.

Itulah hak-hak Allah atas hamba-Nya. Namun kita juga mempunyai hak atas Allah, yaitu jika kita telah menunaikan hak-hak Allah atas diri kita, maka Allah tidak akan mengazab kita.

Masih tentang hak Allah klik disini
 

Copyright 2008 All Rights Reserved | motivasi islami Designed by Bloggers Template | CSS done by Link Building