Tampilkan postingan dengan label akhlak islami. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label akhlak islami. Tampilkan semua postingan

7.11.10

Keluarga islami, keluarga bahagia

Dan dari tanda-tanda-Nya Dia menciptakan bagimu dari dirimu pasangan agar ... Ar Rum2
Begitulah gambaran ayat suci bagi betapa dalamnya hubungan suami isteri, dan diyakinkan bagi kita betapa perkawinan yang bahagia adalah perkawinan yang tentram dan sakinah serta adanya rahmah pada keduanya, hanya saja makna mulya dari perkawinan tadi mulai memudar disebabkan adanya pertikaian antara suami isteri dan tingginya perceraian di Negara kita dan apa yang ditimbulkan dari perpecahan keluarga. Suami dan isteri merupakan dua belah dari rumah tangga, bila keduanya dapat menjalankan tugasnya, sebagaimana keluarga dapat berkembang bila keduanya dapat menjalankan kewajibannya suami isteri, dan keduanya hidup dalam rumah tangga yang dihiasi lahirnya dengan kewibawaan dan bathinnya dihiasi dengan saling menjaga, oleh karena itu kami persembahkan petunjuk ini untuk mencapai kebahagian suami isteri.

Untuk mencapai kebahagian suami isteri
·        Lemah lembut dalam ucapan dan pergaulan serta memperlakukan dengan transparan serta menjaga perasaan pasangannya.
·        Saling menghormati antara pasangan suami isteri dan tidak menghina atau menjelek-jelekkan pasangannya serta memberikan nasehat dengan cara yang baik dan tidak melukai perasaannya.
·        Memperhatikan penampilan masing-masing keduanya, maka jadilah kamu pengantin baru bagi pasanganmu setiap malam, dan berhiaslah dengan pakaian dan parfum yang disukainya.
·        Pergunakanlah kata-kata indah, pujian dan penghormatan antara suami isteri pada setiap saat agar menjadi refresh bagi kehidupan suami isteri dan akan menambah sentuhan cinta pada keduanya.
·        Senyum yang dilandasi dengan cinta dan perasaan yang tulus setiap bertemu pasangannya.
·        Berusaha untuk merefresh penampilan dan ucapan, karena perkawinan adalah merupakan wasilah untuk mendekatkan diri pada Allah.

Peringatan bagi suami isteri
·        Yang didapat oleh seorang mukmin setelah takwa kepada Allah adalah isteri yang shalehah, bila diperintah dia mentaati, bila dipandang dapat membahagiakan, bila dibagikan dia berbuat baik baginya, dan bila dia jauh darinya dia menjaga dirinya dan hartanya. HR.Ibnu Majah.
·        Rasulullah ditanya tentang hak isteri, Beliau bersabda : hendaknya kamu memberikan makan bila anda makan, memberikannya pakaian bila anda berpakaian dan anda tidak memukul wajahnya, tidak menjelek-jelekkan dan tidak menjauh darinya kecuali ketika dia dalam rumah. HR.Abu Daud
·        Dan pergaulilah mereka (isteri-isteri) dengan baik, bila kamu membenci mereka.... An Nisa' 19
·        Berwasiatlah terhadap wanita dengan baik. HR.Bukhari dan Muslim.
·        Dan janganlah kalian melupakan kelebihan salah satu dari kalian. Al Baqarah 237
·        An Nisa' 35
·        Sesungguhnya nikah yang banyak berkahnya adalah yang paling murah biayanya. Imam Ahmad


Cara-cara untuk memecahkan perbedaan dalam keluarga
·        Pahamilah perkara itu, apakah itu perbedaan atau hanya sekedar salah paham saja, menyampaikan sesuatu dengan jujur dapat membantu menghilangkan kesalah pahaman.
·        Koreksilah dirimu, kembali pada diri sendiri dan mengkoresksinya itu lebih utama dan lebih banyak faedahnya, dan ketahuilah bahwa tidak akan turun bala' kecuali atas dosa yang diperbuat, dan diantara bala' itu adalah perbedaan yang terjadi dengan orang yang dicintai.
·        Jangan mengembangkan perbedaan tapi persempitlah agar tidak menyebar diantara orang-orang atau keluar dari batasan, dan bersabarlah terhadap tabiat-tabiat asli suami isteri.
·        Batasilah perbedaan dan fokoskan pada satu permasalahan saja dan jangan membuka permasalahan lama serta ridha terhadap pemberian Allah.
·        Ingatlah titik persamaan antara kalian berdua itu akan membuat hati menjadi lembut dan menjauhkan dari syetan.

Dia (laki-laki) kututup-tutupi segala lelahku darimu, tujuanku hanya membuatmu senang.
Dia (perempuan) kebersamaanku denganmu dalam segala cobaan merupakan puncak hubungan dalam cinta.




Anak kecil bagaikan adonan, bagaikan ranting pohon yang basah, semampu anda dapat anda mengarahkannya kemana anda suka, bila ranting itu telah kering dan telah berbentuk, maka menjadi susah untuk meluruskannya, karena itu akan membuatnya patah, begitulah kenyataannya.


Bagaimana menghadapi anak kecil yang nakal…..?
Anak nakal merupakan masalah yang membuat keluarga itu susah, dan inilah yang paling banyak menyebabkan permalasalahan keluarga dijalanan dengan tetangganya, disekolah dengan teman-teman dan guru-gurunya, dan di club dengan para sahabatnya.

Siapakah itu anak nakal itu ?
Anak nakal adalah anak yang membuat susah orang sekelilingnya untuk bergaul dengannya, dia dapat membangkitkan kemarahan terutama pada kedua orang tuanya dirumah, hingga keduanya terpaksa menggunakan kekerasan supaya tidak nakal lagi.

Anak nakal sedikit konsentrasinya, banyak gerak, banyak bicara dengan suara yang keras, dia tidak stabil perasaannya dan mudah berubah-ubah.

Cara menghadapi anak nakal..
v    Pentingnya memberikan waktu yang tepat dirumah, seperti cinta, kasih sayang, kelemah lembutan, ketenangan dan kestabilan hingga anak itu tumbuh dengan sempurna.
v    Kedua orang tua hendaknya tidak melakukan pertikaian dan teriakan dihadapan anak itu.
v    Kedua orang tua jangan membadingkan-bandingkan dihadapan orang lain, serta bangga dan memperolok-oloknya hingga dia tidak merasa lebih rendah, kurang dan merasa tidak enak.
v    Kedua orang tua jangan menyiksa dan memukul ketika anak itu bersalah, tapi bagi keduanya hendaknya memerikan pengarahan dengan cara yang bijak.
v    Diberikan toleransi yang luas didalam rumah.
v    Meminta saran pada dokter kejiwaan yang akan memberikan manfaat dalam mengatasi diri serta cara menguasainya.
v    Jangan menuruti semua permintaan anak dalam seketika, hingga anak itu tidak menjadikan tangis dan teriakan sebagai perantara untuk mendapatkan semua permintaannya.
v    Memberikan dorongan agar anak itu mengisi waktu kosongnya dengan bermain dengan teman-temannya.
v    Pengawasan yang berkesinambungan terhadap anak dirumah dan disekolah, agar dapat berbuat secara dini bila terjadi sesuatu.


Ketegangan antar suami isteri dan bagaimana cara mengatasinya
Dalam kehidupan suami isteri ada titik yang sangat riskan yang dapat menyebabkan ketegangan antar keduanya, kadang juga dapat membangkitkan kemarahan atau kekesalan. Dan barang siapa yang tidak dapat mengatasinya detik-detik ini dengan pikiran yang jernih, tenang dan sabar serta mampu melihat situasi dengan lapang dada dan penuh toleran, maka itu mungkin ketegangan itu akan memancing pasangannya untuk berbuat serupa hingga akan menyesal dikemudian hari.

Pertama       : Perbuatan yang dapat membangkitkan kemarahan suami, bagaimana isteri dapat mengatasinya perlakuan itu ?
1.     Menyebarkan rahasia-rahasia pribadinya.
-         Isteri hendaknya memahami kemauan suami dan menghormati keperluan dan kepribadiannya.
-         Berusaha untuk memuaskannya dengan alasan-alasan yang tepat dan tenang kenapa dia melakukan itu.
-         Berjanji terhadap suami untuk tidak melakukan kesalahan-kesalahan itu kembali.

2.     Tidak mempedulikan kebersihan rumah dan anak-anak..
-         Menjelaskan sebab-sebab yang membuat isteri tidak menjaga kebersihan rumah.
-         Jelaskan padanya bahwa kejadian ini hanya sementara saja.
-         Berjanji untuk menjaga ketertiban rumah.

3.     Bertemu dengan orang-orang yang tidak disukai tanpa seizin suami..
-         Isteri hendaknya menghargai kemauan suami dan memahami kenapa dia menolak itu.
-         Alasan penolakan suami adalah hal yang positif.
-         Mengajaknya berbicara tentang sebab-sebab penolakannya hingga tercapai kepuasan.
-         Menjelaskan pada suami bahwa dia membutuhkan teman-teman sebagai kebutuhan yang utama.

4.     Perhiasan dan pakaian yang tidak sopan ketika keluar rumah..
-         Isteri menafsirkan penolakan suami dengan tafsir positif, artinya penolakan suami berarti cinta padanya dan ghirahnya yang tinggi.
-         Berusaha mendapatkan ridha suaminya semampu mungkin karena itu merupakan diantara penyebab isteri masuk surga.

5.     Berbicara dengan cara yang dapat mengundang amarah serta tidak menerima pendapatnya…
-         Isteri hendaknya menggunakan cara yang tenang dalam berdialog.
-         Memilih tempat yang tepat untuk berdialog.
-         Memilih waktu yang tepat untuk berdialog, jangan memulai dialog dengan cara menyerang.
-         Selalu memilih dalam memulai dialog dengan kata-kata yang dapat menenangkan perasaan.

6.     Menemui keluarganya dengan cara yang kurang sopan…
-         Memaparkan sebab kenapa anda berbuat demikian terhadap keluarganya.
-         Berdialog dengan suami dengan tenang.
-         Berusaha membangun hubungan yang baik dengan keluarga suami serta tidak memutuskan hubungan dengannya.

7.     Menggunakan telephon secara terus menerus tanpa mempedulikan keberadaan suami dirumah…
-         Isteri berusaha mengetahui tabiat suami.
-         Mencari penyebab serta menerangkannya dengan tenang.

Perbuatan yang membuat isteri marah, bagaimana cara menghadapinya ?
1.     Suami pulang terlambat kerumah…
-         Suami hendaknya menghormati kemauan isteri, serta kebutuhannya sebagai suami dan kepala rumah tangga.
-         Suami hendaknya berusaha agar tidak apriori dan memberikan waktunya untuk keperluan anggota keluarga.
-         Suami hendaknya berusaha menafsirkan kemarahan isteri dengan tafsir yang positif, artinya kemarahannya timbul karena cintanya pada suami dan karena dia membutuhkannya, bukan karena curiga dalam tingkah laku suami.

2.     Ketika membuat masalah tanpa ada penyebabnya….
-         Suami yang membuat masalah tanpa adanya penyebab, mungkin karena dia sedang penat, maka dia harus berkonsultasi dengan seorang ahli untuk menurunkan kepenatannya.
-         Banyak yang dapat diambil ketika berkonsultasi dengan ahli, diantaranya, kenyamanan dan menguasai diri.

3.     Menolak satu permintaan…
-         Suami hendaknya menjelaskan alasan penolakannya.
-         Suami hendaknya berdialog dengan  isteri tentang sebab-sebab penolakannya, contoh ( karena saking sayangnya pada isteri).
-         Suami hendaknya berusaha mendapatkan cara-cara lain ketika menolak permintaannya.

4.     Ketika dia tidak tahu-menahu perasaan isterinya…
-         Suami hendaknya menerangkan dengan tenang serta berdialog dengan cara yang baik sebab-sebab ketidak tahu-menahuannya (karena sedang sakit, tekanan kerja, atau ada masalah pribadi).
-         Suami hendaknya menjelaskan pada isteri tentang kepribadian setiap laki-laki serta kebutuhannya, kadang-kadang apriori.
-         Suami hendaknya menjelaskan pada isteri bahwa ketidak tahu-menahuannya hanya sementara.

5.     Terlalu sibuk dengan tv dan tidak memperdulikan isterinya…
-         Suami hendaknya menghormati perasaan dan kemauan isterinya, bila dia ingin menonton acara tv, maka dia hendaknya menjelaskannya pada isterinya, kemudian menjanjikan pada isterinya bahwa setelah selesai acara itu dia akan memperhatikan dan mendengarkan isterinya.
-         Suami hendaknya tidak apriori dan memberikan waktunya untuk keperluan anggota keluarganya.
-         Suami hendaknya menghargai keperluan isterinya dan tidak meremehkannya, karena kepuasan jiwa lebih penting dari kepuasan lainnya.

6.     Terlalu dingin pada saat dia membutuhkan kehangatan..
-         Suami hendaknya berusaha menjelaskan pada isteri, bahwa permasalahan itu tidak membutuhkan ketegangan.
-         Suami hendaknya aktif dalam memperhatikan permasalahan isterinya.
-         Suami hendaknya menjelaskan betapa dia sangat memperhatikan permasalahan itu.

7.     Tidak terus terang dalam perkara yang ada sangkut paut antar suami isteri….
-         Hendaknya suami menjadi pendengar setia, menjelaskan sebab-sebab tidak ikut campurnya.
-         Suami hendaknya membiasakan dirinya untuk take and give.
-         Suami hendaknya membiasakan dirinya untuk duduk bersama seminggu sekali serta berterus terang dalam membahas permasalahan bersama.
-         Sehingga isteri merasa bahwa pendapatnya dalam permasalahan bersama sangatlah penting dan hendaknya suami menghormati pendapatnya walaupun suami tidak meminta pendapat itu.

Diterjemahkan oleh : Abdul Latief Sukyan.
Dari : Social Support Center
General Head Quarter Of Abu Dhabi Police.

Islam tidak disebarkan dengan pedang

 Kebohongan yang sering dipropagandakan oleh musuh-musuh Islam bahwa Islam berdiri diatas pedang dan para pemeluknya masuk bukan dengan jalan rela dan pilihan sendiri, tapi mereka memeluk Islam dengan jalan paksa dan kekerasan, para musuh Islam itu mengambil kesimpulan bahwa disyariatkannya jihad dalam Islam sebagai dasar dari kebohongan mereka itu, jauh dan sangat jauh perbedaannya antara pensyariatan jihad dengan pemaksaan manusia untuk memeluk Islam, karena pensyariatan jihad bukan untuk tujuan nista ini, tapi demi kepentingan yang mulya dan demi tegaknya hukum.

Pernyataan diatas sering dikemukakan oleh orientalis dan para misionaris yang sengaja ingin merusak citra Islam dan Nabinya dengan selalu menyebarkan pendapat : lihatlah ? Muhammad itu telah berdakwah dengan perang, dan berjihad dijalan Allah yaitu memaksa manusia dengan pedang untuk memeluk agama Islam, lain halnya dengan Al Masih yang selalu mengajak pada perdamaian dan membenci peperangan, dan selalu mengajak pada toleransi dan menjalin ikatan antar sesama dengan tali persaudaraan dijalan Allah dan Al Masih.

Dengan jujur kita katakan : bahwa sebagian orientalis tidak percaya dengan kebohongan diatas, mereka melihat bahwa jihad adalah untuk menjaga dakwah itu, mempertahankan dari serangan musuh, dan sesungguhnya tidak ada paksaan dalam agama. Sesungguhnya Islam masuk kedalam hati mereka dengan toleransi ajarannya : dalam aqidah, ibadah, akhlak, muamalah dan adabnya baik dimasa damai ataupun perang, dan keadilan politik yang tercermin dalam pemimpin dan rakyatkya, dan rahmatnya yang menyeluruh, kemanusiaannya yang diterapkan ketika masa pembebasan daerah-daerah, sesungguhnya Islam adalah agama yang sesuai dengan fitrah yang diciptakan Allah Swt, hingga tidak perlu heran bila banyak jiwa-jiwa yang memeluk Islam, karena itu sesuai dengan fitrah, banyak yang berjuang dijalannya dengan tabah terhadap siksaan yang teramat pedih demi tegaknya ajaran itu.

Rasulullah Saw tinggal di Makkah selama 13 tahun, Beliau berdakwah dengan hujjah dan ungkapan yang baik, banyak yang masuk Islam pada masa itu dari golongan orang-orang yang terhormat dan lainnya, dan kebanyakan yang memeluk Islam pada masa itu adalah kaum fakir, dan Rasulullah tidak mempunyai kekayaan untuk membujuk mereka agar masuk dalam Islam, tapi mereka para pemeluk Islam selalu sabar dalam menghadapi siksaan dan mereka bertahan menjaga keyakinan mereka, tapi cobaan yang mereka terima justeru menambah keyakinan mereka untuk membela yang hak, mereka adalah pahlawan akidah walaupun mereka miskin, kita tidak pernah mendengar mereka keluar dari Islam (murtad) karena tergoda oleh harta yang ditawarkan oleh kaum musyrik, tapi mereka bagaikan emas bila tertimpa api mereka semakin jernih dan bagus, mereka bagaikan besi yang terkena bara bertambah kuat, bahkan ada dari mereka yang merasakan kenikmatan dalam siksaan dan kemanisan dalam kepahitan.

Sebagian mereka berhijrah ke Habasyah, kemudian mereka melakukan hijrah besar yaitu hijrah ke Madinah, mereka tinggalkan keluarga, anak, harta, kampung halaman, mereka tabah menjalani keasingan, kemiskinan, dan Rasulullah tetap berdakwah tahun demi tahun dengan bijak dan dengan debat yang terbaik, banyak penduduk Madinah yang memeluk Islam sebelum hijrah dan sesudah hijrah dengan rela dan penuh kepuasan jiwa, tidaklah wajar bagi manusia yang mempunyai akal sehat serta membaca sejarah, dan berprasangka bahwa Nabi Saw dan kaum muslimin selama 14 tahun memaksa seseorang untuk memeluk Islam, kecuali orang yang buta akan sejarah dan tidak menggunakan akal sehatnya.

Sesungguhnya pensyariatan jihad dalam Islam bukan untuk memaksa seseorang untuk memeluk agama Islam sebagaimana tuduhan mereka, tetapi untuk mempertahankan aqidah dan menjaga kelanggengan dakwah itu, menjaga kaum muslimin, mempertahankan kebenaran dan menyebarkan kalimatullah dimuka bumi, maka lihatlah dalam firman Allah : Al Mumtahanah 8-9).

Islam selalu damai dengan orang yang ingin berdamai, dan tidak melarang melakukan perbuatan baik dan berbuat adil terhadap mereka, lebih jauh pendirian Islam terhadap orang-orang yang memerangi kaum muslimin dan mengusir mereka dari negerinya atau mempermudah mereka untuk memerangi atau mengusir kaum muslimin, Islam tidak mengajarkan berbuat dzalim terhadap mereka, tapi melarang untuk mengangkat mereka menjadi pemimpin atau menolong mereka. Lihat Al Baqarah 190).

diterjemahkan oleh : Abdul latief Sukyan

20.10.10

Seberapa kuat iman Anda?


Bertambah ataupun berkurangnya keimanan dipengaruhi banyak faktor. Salah satunya adalah lingkungan keimanan itu sendiri. Sudahkah keluarga, institusi pendidikan, dan masyarakat menjadi tempat yang bisa menyemaikan keimanan anak-anak kita?

Iman adalah nikmat Allah Subhanahu wa Ta’ala yang wajib disyukuri dan dijaga. Sehingga ketika ada orang yang meminta nasihat kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau menasihatkan untuk istiqamah di atas iman.


Dari Abu ‘Amr –ada yang menyatakan pula Abi ‘Amrah– Sufyan bin Abdillah radhiyallahu ‘anhu:
قُلْتُ: يَا رَسُولَ اللهِ، قُلْ لِي فِي الْإِسْلَامِ قَوْلًا لَا أَسْأَلُ عَنْهُ أَحَدًا غَيْرَكَ. قَالَ: قُلْ آمَنْتُ بِاللهِ ثُمَّ اسْتَقِمْ
Aku berkata kepada Rasulullah: “Wahai Rasulullah, sampaikanlah kepadaku satu perkataan yang aku tidak akan bertanya lagi setelahnya kepada selainmu.” Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Katakanlah aku beriman kepada Allah kemudian istiqamahlah.” (HR. Muslim)


Di antara keyakinan Ahlus Sunnah wal Jamaah, iman seseorang bisa bertambah dan berkurang. Hal ini berdasarkan banyak dalil dari Al-Qur`an dan As-Sunnah.


Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
الَّذِينَ قَالَ لَهُمُ النَّاسُ إِنَّ النَّاسَ قَدْ جَمَعُوا لَكُمْ فَاخْشَوْهُمْ فَزَادَهُمْ إِيمَانًا وَقَالُوا حَسْبُنَا اللَّهُ وَنِعْمَ الْوَكِيلُ
“Orang-orang (yang menaati Allah dan rasul), ada yang berkata kepada mereka: ‘Sesungguhnya manusia (yakni kaum musyrikin) telah berkumpul untuk menyerang kalian, karena itu takutlah kepada mereka’. Maka perkataan itu (justru) menambah keimanan mereka dan mereka menjawab: ‘Cukuplah Allah menjadi penolong kami dan Allah adalah sebaik-baik Pelindung’.” (Ali ‘Imran: 173)


إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ إِذَا ذُكِرَ اللهُ وَجِلَتْ قُلُوبُهُمْ وَإِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ ءَايَاتُهُ زَادَتْهُمْ إِيمَانًا وَعَلَى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ
“Sesungguhnya orang-orang yang beriman (dengan iman yang hakiki) ialah mereka yang bila disebut nama Allah, gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan ayat-ayat-Nya bertambahlah iman mereka (karenanya), dan hanya kepada Allah lah mereka bertawakal.” (Al-Anfal: 2)


وَأَمَّا الَّذِينَ فِي قُلُوبِهِمْ مَرَضٌ فَزَادَتْهُمْ رِجْسًا إِلَى رِجْسِهِمْ وَمَاتُوا وَهُمْ كَافِرُونَ
“Dan apabila diturunkan suatu surat, di antara mereka ada yang berkata: ‘Siapakah di antara kalian yang bertambah imannya dengan (turunnya) surat ini?’ Adapun orang-orang yang beriman maka surat ini menambah imannya dan mereka merasa gembira.” (At-Taubah: 125)


وَلَمَّا رَأَى الْمُؤْمِنُونَ الْأَحْزَابَ قَالُوا هَذَا مَا وَعَدَنَا اللهُ وَرَسُولُهُ وَصَدَقَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ وَمَا زَادَهُمْ إِلَّا إِيمَانًا وَتَسْلِيمًا
“Dan tatkala orang-orang mukmin melihat golongan-golongan yang bersekutu itu, mereka berkata: ‘Inilah yang dijanjikan Allah dan Rasul-Nya kepada kita, dan benarlah Allah dan Rasul-Nya.’ Yang demikian itu tidaklah menambah kepada mereka kecuali iman dan ketundukan.” (Al-Ahzab: 22)


هُوَ الَّذِي أَنْزَلَ السَّكِينَةَ فِي قُلُوبِ الْمُؤْمِنِينَ لِيَزْدَادُوا إِيمَانًا مَعَ إِيمَانِهِمْ وَلِلَّهِ جُنُودُ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِ وَكَانَ اللهُ عَلِيمًا حَكِيمًا

“Dia-lah yang telah menurunkan ketenangan ke dalam hati orang-orang mukmin supaya keimanan mereka bertambah di samping keimanan mereka (yang telah ada). Dan kepunyaan Allah-lah tentara langit dan bumi dan adalah Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (Al-Fath: 4)

وَمَا جَعَلْنَا أَصْحَابَ النَّارِ إِلَّا مَلَائِكَةً وَمَا جَعَلْنَا عِدَّتَهُمْ إِلَّا فِتْنَةً لِلَّذِينَ كَفَرُوا لِيَسْتَيْقِنَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ وَيَزْدَادَ الَّذِينَ ءَامَنُوا إِيمَانًا
“Dan tiada Kami jadikan penjaga neraka itu melainkan dari malaikat, dan tidaklah Kami menjadikan bilangan mereka itu melainkan untuk menjadi cobaan bagi orang-orang kafir, supaya orang-orang yang diberi Al-Kitab menjadi yakin dan supaya orang yang beriman bertambah imannya.” (Al-Muddatstsir: 31)


Adapun hadits-hadits yang menunjukkan masalah ini banyak sekali. Di antaranya hadits Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Aku mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَرًا فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ، فَإِنْ لـَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ، فَإِنْ لـَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ، وَذَلِكَ أَضْعَفُ الْإِيمَانِ
“Barangsiapa di antara kalian melihat satu kemungkaran hendaklah mengubah dengan tangannya. Jika tidak mampu maka dengan lisannya. Jika tidak mampu maka dengan hatinya dan itulah selemah-lemahnya iman.” (HR. Muslim)


Dalam riwayat lain Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata:
مَا رَأَيْتُ مِنْ نَاقِصَاتِ عَقْلٍ وَدِينٍ أَذْهَبَ لِلُبِّ الرَّجُلِ الْحَازِمِ مِنْ إِحْدَاكُنَّ
“Tidaklah aku melihat ada orang yang kurang akal dan agamanya yang membuat goyah hati lelaki yang kokoh selain salah seorang kalian (kaum wanita).”


Di antara dalil masalah ini adalah hadits Jundub bin Abdillah radhiyallahu ‘anhu:
كُنَّا مَعَ النَّبـِيِّ n وَنَحْنُ فِتْيَانٌ حَزَاوِرَةٌ فَتَعَلَّمْنَا الْإِيمَانَ قَبْلَ أَنْ نَتَعَلَّمَ الْقُرْآنَ ثُمَّ تَعَلَّمْنَا الْقُرْآنَ فَازْدَدْنَا بِهِ إِيمَانًا
“Kami bersama Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ketika itu kami para pemuda yang sebaya. Kami belajar iman sebelum belajar Al-Qur`an. Kemudian kamipun belajar Al-Qur`an dan bertambahlah iman kami.” (HR. Ibnu Majah)


Asy-Syaikh Al-Hakami rahimahullahu berkata: “Ini adalah ijma’ para imam yang teranggap ijma’nya. Mereka menyatakan bahwa iman itu bertambah dan berkurang.” (Ma’arijul Qabul)
Diriwayatkan oleh Al-Imam Al-Ajurri bahwa Sufyan bin ‘Uyainah berkata: “Iman itu ucapan dan amalan, bertambah dan berkurang.” Saudara beliau, Ibrahim bin ‘Uyainah berkata: “Wahai Abu Muhamad (nama kunyah Sufyan bin Uyainah, red.), jangan engkau katakan bertambah dan berkurang.” Ibnu ‘Uyainah pun marah dan berkata: “Diamlah wahai anak kecil! Bahkan iman bisa berkurang hingga tidak tersisa di hatinya sedikitpun.”


Sebagian salaf berkata: “Di antara wujud pemahaman seseorang adalah senantiasa menjaganya dari kekurangan. Di antara wujud pemahaman seseorang adalah dia tahu apakah imannya bertambah atau berkurang. Dan di antara wujud pemahaman seseorang adalah dia tahu godaan setan yang mendatanginya.” (Syarah Nuniyyah)

Bertambahnya Iman dengan Ketaatan
Menurut keyakinan Ahlus Sunnah, bertambahnya iman seseorang itu dengan ketaatan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Semakin dia taat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, maka semakin kuat keimanannya.


Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullahu berkata: “Sebab bertambahnya iman ada empat:
1. Mengenal Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan nama-nama dan sifat-sifat-Nya. Karena, semakin seorang mengenal Allah Subhanahu wa Ta’ala, nama-nama, serta sifat-sifat-Nya akan semakin bertambah keimanannya.
2. Melihat ayat-ayat Allah Subhanahu wa Ta’ala yang kauniyah maupun syar’iyah.
3. Banyak berbuat taat dan kebaikan. Karena amalan termasuk dalam iman, sehingga banyak melakukan amal baik akan memperbanyak/meningkatkan keimanan.
4. Meninggalkan maksiat dengan niat taqarrub (mendekatkan diri) kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.” (Diringkas dari Syarh Al-Ushul Ats-Tsalatsah)

Sebab Lemahnya Iman
Menurut keyakinan Ahlus Sunnah, berkurangnya iman disebabkan maksiat yang dilakukan seseorang. Semakin banyak maksiat dilakukannya, akan semakin mengurangi keimanannya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
كَلَّا بَلْ رَانَ عَلَى قُلُوبِهِمْ مَا كَانُوا يَكْسِبُونَ
“Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutupi hati mereka.” (Al-Muthaffifin: 14)
Setiap kali seseorang berbuat maksiat, akan dititik hitam di hatinya sebagaimana diriwayatkan dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.


Kami akan sebutkan beberapa perkara yang sangat berpengaruh dalam turunnya keimanan seseorang.
Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullahu berkata: “Sebab berkurangnya iman ada empat:
1. Berpaling dari mengenal Allah Subhanahu wa Ta’ala, nama-nama, dan sifat-sifat-Nya.
2. Berpaling dari melihat ayat-ayat Allah kauniyah dan syar’iyah, karena hal itu akan menyebabkan kelalaian dan kerasnya hati.
3. Kurang beramal shalih.
4. Berbuat maksiat.” (Diringkas dari Syarh Al-Ushul Ats-Tsalatsah)

Perlu diketahui di sini, ada amalan-amalan yang sangat memengaruhi keimanan seseorang namun dianggap sepele oleh banyak orang. Di antaranya:


1. Jauh dari lingkungan dan suasana iman.
أَلَمْ يَأْنِ لِلَّذِينَ ءَامَنُوا أَنْ تَخْشَعَ قُلُوبُهُمْ لِذِكْرِ اللهِ وَمَا نَزَلَ مِنَ الْحَقِّ وَلَا يَكُونُوا كَالَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ مِنْ قَبْلُ فَطَالَ عَلَيْهِمُ الْأَمَدُ فَقَسَتْ قُلُوبُهُمْ وَكَثِيرٌ مِنْهُمْ فَاسِقُونَ
“Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk tunduk hati mereka mengingat Allah dan kepada kebenaran yang telah turun (kepada mereka), dan janganlah mereka seperti orang-orang yang sebelumnya telah diturunkan Al-Kitab kepadanya. Kemudian berlalulah masa yang panjang atas mereka lalu hati mereka menjadi keras. Dan kebanyakan di antara mereka adalah orang-orang yang fasik.” (Al-Hadid: 16)
Lingkungan merupakan faktor terpenting dalam memelihara dan memupuk keimanan. Lingkungan yang beriman akan menambah keimanan, dan lingkungan yang jelek akan merusak keimanan seseorang.
Dalil yang paling menunjukkan akan hal ini adalah disyariatkannya hijrah dari negeri kafir ke negeri muslim. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
إِنَّ الَّذِينَ تَوَفَّاهُمُ الْمَلاَئِكَةُ ظَالِمِي أَنْفُسِهِمْ قَالُوا فِيمَ كُنْتُمْ قَالُوا كُنَّا مُسْتَضْعَفِينَ فِي اْلأَرْضِ قَالُوا أَلَمْ تَكُنْ أَرْضُ اللهِ وَاسِعَةً فَتُهَاجِرُوا فِيهَا فَأُولَئِكَ مَأْوَاهُمْ جَهَنَّمُ وَسَاءَتْ مَصِيرًا. إِلاَّ الْمُسْتَضْعَفِينَ مِنَ الرِّجَالِ وَالنِّسَاءِ وَالْوِلْدَانِ لاَ يَسْتَطِيعُونَ حِيلَةً وَلاَ يَهْتَدُونَ سَبِيلاً. فَأُولَئِكَ عَسَى اللهُ أَنْ يَعْفُوَ عَنْهُمْ وَكَانَ اللهُ عَفُوًّا غَفُورًا
“Sesungguhnya orang-orang yang diwafatkan malaikat dalam keadaan menganiaya diri sendiri, malaikat bertanya (kepada mereka): ‘Dalam keadaan bagaimana kamu ini?’ Mereka menjawab: ‘Kami orang-orang yang tertindas di negeri (Makkah).’ Para malaikat berkata: ‘Bukankah bumi Allah itu luas, sehingga kamu dapat berhijrah di bumi itu?’ Orang-orang itu tempatnya neraka Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali. Kecuali mereka yang tertindas baik laki-laki atau wanita ataupun anak-anak yang tidak mampu berdaya upaya serta tidak mengetahui jalan (untuk hijrah). Mereka itu, mudah-mudahan Allah memaafkannya. Dan adalah Allah Maha Pemaaf lagi Maha Pengampun.”
Namun disayangkan, banyak di antara kaum muslimin yang tidak mengindahkan masalah ini dan justru melakukan amalan yang membahayakan iman mereka dan anak-anak mereka, yakni lebih memilih dan senang tinggal di negeri kafir.
Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-’Utsaimin rahimahullahu menerangkan: “Sesungguhnya tinggal di negeri kafir bahayanya amatlah besar terhadap agama seseorang. Membahayakan akhlak, tingkah laku, dan adabnya. Kami dan selain kami telah menyaksikan penyimpangan orang-orang yang tinggal di negeri kafir. Mereka pulang (dengan aqidah) yang berbeda ketika berangkat, pulang dalam keadaan sebagai orang fasik. Sebagian mereka pulang dalam keadaan murtad dari agamanya....” (Syarh Al-Ushul Ats-Tsalatsah)
Asy-Syaikh Shalih Fauzan berkata: “Diharamkan bagi seorang muslim menjadikan dirinya sebagai pembantu/pelayan orang kafir, karena dalam amalan tersebut terdapat unsur kekuasaan dan penghinaan orang kafir atas seorang muslim. Tinggal terus-menerus di negeri kafir juga haram karena akan membahayakan aqidah seorang muslim.” (Kitabut Tauhid, lishafil awal al-’ali hal.107)


Termasuk dalam masalah ini adalah bepergian ke negeri kafir untuk berlibur/melancong atau acara hiburan lainnya. Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullahu berkata: “Bepergian ke negeri kafir tidak diperbolehkan kecuali dengan tiga syarat:
1. Dia mempunyai ilmu untuk menolak syubhat (pemikiran yang menyimpang).
2. Dia punya agama yang mencegahnya dari syahwat.
3. Dia membutuhkannya.
Jika syarat-syarat ini tidak terpenuhi maka dia tidak diperbolehkan bepergian ke negeri kafir. Karena bepergian ke negeri kafir mengandung fitnah (cobaan), khawatir fitnah dan menghamburkan harta, karena seorang yang bepergian ke sana akan mengeluarkan dana yang tidak sedikit.” (Syarh Al-Ushul Ats-Tsalatsah)

2.Menjauh dari majelis ilmu (syar’i)
Dari Hanzhalah: Abu Bakr berjumpa denganku dan berkata: “Bagaimana kabarmu, wahai Hanzhalah?” Aku katakan: “Hanzhalah telah tertimpa kemunafikan!” Beliau berkata: “Subhanallah, apa yang kau ucapkan?” Aku katakan: “Ketika kita ada di sisi Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang memperingatkan tentang surga dan neraka, sepertinya kita melihat dengan mata kepala kita. Tapi jika kita pulang dari majelis Rasulullah, kita sibuk dengan istri dan anak serta mata pencaharian, maka kitapun banyak lupa.” Abu Bakr berkata: “Demi Allah, kitapun merasakan hal tersebut.” Maka akupun berangkat bersama Abu Bakr hingga masuk menemui Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Aku katakan: “Hanzhalah telah tertimpa kemunafikan, wahai Rasulullah!” Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata: “Ada apa ini?” Aku katakan: “Wahai Rasulullah, ketika kami ada di sisi Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang memperingatkan tentang surga dan neraka, sepertinya kami melihat dengan mata kami. Tapi jika kami pulang dari majelis Rasulullah, kami sibuk dengan istri dan anak serta mata pencaharian, maka kamipun banyak lupa.” Rasulullah berkata: “Demi Dzat yang jiwaku di tangan-Nya, jika kalian terus merasakan seperti keadaan berada di sisiku dan terus berdzikir, niscaya malaikat akan menyalami kalian di tempat tidur dan jalan-jalan. Akan tetapi wahai Hanzhalah, sesaat, sesaat.” (HR. Muslim)
Asy-Syaikh Al-Hakami rahimahullahu mengatakan: “Jika menjauh dari majelis ilmu berpengaruh kepada iman seseorang, lebih-lebih lagi jika tersibukkan dengan ilmu yang terkontaminasi oleh pemahaman kufur yang sengaja disusupkan.”

3. Teman yang jelek kelakuannya
Teman sangatlah berpengaruh pada keimanan seseorang. Karena Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata:
الْـمَرْءُ عَلَى دِينِ خَلِيلِهِ
“Seseorang di atas agama temannya.”
Di antara kesalahan kaum muslimin adalah menyerahkan pendidikan anak-anak mereka ke lembaga-lembaga yang tidak mementingkan aqidah. Bahkan sebagian mereka “menitipkan” anak mereka ke lembaga pendidikan yang notabene kafir atau mengirim anak mereka belajar di negeri kafir. Innalillahi wa inna ilahi raji’un. Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-’Utsaimin rahimahullahu menjelaskan:
“Macam kelima: Tinggal di negeri kafir untuk belajar. Ini sama dengan tinggal karena suatu kebutuhan, namun lebih berbahaya dan lebih dahsyat kerusakannya bagi agama dan akhlak pelakunya. Karena seorang pelajar akan merasa rendah derajatnya dan tinggi kedudukan gurunya. Sehingga menyebabkan dia mengagungkan guru-guru serta merasa puas dengan pemikiran, pendapat, dan perilaku guru-guru mereka serta kemudian mengikutinya, kecuali orang-orang yang Allah Subhanahu wa Ta’ala menjaganya dan yang seperti ini sedikit jumlahnya. Kemudian pelajar merasa butuh kepada gurunya sehingga menyebabkan dia mencari simpati dan basa-basi dengannya, dalam keadaan gurunya di atas penyimpangan dan kesesatan. Demikian juga, seorang pelajar di tempatnya belajar mempunyai teman-teman yang dijadikannya sahabat dekat. Dia mencintai, loyal, dan mengambil akhlak mereka….” (Syarh Al-Ushul Ats-Tsalatsah)
Demikianlah sebagian sebab menurunnya iman seseorang. Perlu diketahui pula bahwa berkurangnya iman, jika sampai menyebabkan meninggalkan perkara wajib atau melakukan perkara haram, merupakan keadaan yang berbahaya. Pelakunya tercela dan wajib bertaubat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan bersegera untuk mengobati dirinya. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata:
إِنَّ لِكُلِّ عَمَلٍ شِرَّةً وَلِكُلِّ شِرَّةٍ فَتْرَةٌ، فَمَنْ كَانَتْ شِرَّتُهُ إِلَى سُنَّتـِي فَقَدْ أَفْلَحَ وَمَنْ كَانَتْ فَتْرَتُهُ إِلَى غَيْرِ ذَلِكَ فَقَدْ هَلَكَ
“Setiap amalan ada masa semangatnya, dan masa semangat ada masa jenuhnya. Barangsiapa kejenuhannya dipalingkan kepada sunnahku berarti dia telah berbahagia, dan barangsiapa yang kejenuhannya tidak membawa dia kepada yang demikian maka dia telah binasa.” (HR. Ahmad, lihat Shahih At-Targhib)
Mudah-mudahan Allah Subhanahu wa Ta’ala senantiasa menjaga iman kita serta memberi taufiq kepada kita untuk senantiasa beramal shalih dan istiqamah di jalan-Nya. Allahumma amin.


Al-Ustadz Abu Abdillah Abdurrahman Mubarak 

Agar Allah selalu menjaga dan menolong kita


 

يَا غُلاَمُ، إِنِّيْ أُعَلِّمُكَ كَلِمَاتٍ: احْفَظِ اللهَ يَحْفَظْكَ، اِحْفَظِ اللهَ تَجِدْهُ تُجَاهَكَ، إِذَا سَأَلْتَ فَاْسألِ اللهَ، وَإِذَا اسْتَعَنْتَ فَاسْتَعِنْ باِلله 
Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam berwasiat kepada Ibnu Abbas Radhiallahu ‘anhu: "Wahai anak kecil, sungguh aku akan mengajarkan beberapa kalimat (nasehat penting) kepadamu, (maka dengarkanlah baik-baik!): "Jagalah (batasan-batasan syariat) Allah, maka Allah akan menjagamu, jagalah (batasan-batasan syariat) Allah, maka kamu akan mendapati Allah di hadapanmu (selalu bersamamu dan menolongmu), jika kamu (ingin) meminta (sesuatu), maka mintalah  (hanya) kepada Allah, dan jika kamu (ingin) memohon pertolongan, maka mohon pertolonganlah (hanya) kepada Allah...”  [Hadits Shahih, Tuhfatul Ahwadzi no. 2516]
HADITS ini diriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas Radhiallahu ‘anhu, sepupu Nabi yang berjuluk “al-Bahr” (lautan) karena keluasan ilmunya. Ibnu ‘Abbas Radhiallahu ‘anhu adalah putra paman Nabi yang bernama ‘Abbas bin Abdul Muththalib. Ibnu ‘Abbas Radhiallahu ‘anhu lahir 3 tahun sebelum Nabi hijrah. Beliau wafat di Thaif pada tahun 68 H.
Kedudukan hadits ini sangatlah agung, sampai-sampai Imam Ibnul Jauzi menggambarkan dengan ucapannya: “(Ketika) aku merenungkan dan menghayati (makna) hadits ini, aku tercengang (terpesona) dan nyaris kehilangan akal, duhai, alangkah ruginya (seorang yang) tidak mengetahui hadits ini dan kurang memahami maknanya” [dinukil dari Jami’ul ‘Ulum wal Hikam: 462]
 KANDUNGAN HADITS
1. Penjagaan dari Allah bagi seorang hamba yang menjaga batasan-batasan syariat-Nya. Dalam hal ini berlaku ketentuan  Allah yang disebut al-Jazaa-u min Jinsil ‘Amal (balasan yang sesuai dengan jenis perbuatan), seperti yang  Allah sebutkan dalam firman-Nya:
 
  فَاذْكُرُوْنِيْ أَذْكُرْكُمْ
“Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku ingat (pula) kepadamu" (QS Al Baqarah:152), dan firman-Nya:
 
يَاأَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا إِنْ تَنْصُرُ اللهَ يَنْصُرْكُمْ
“Hai orang-orang yang beriman, jika kamu menolong (agama) Allah I, niscaya Dia akan menolongmu” (QS Muhammad:7) [lihat Jami'ul 'Ulum wal Hikam: 465].
2. Makna "penjagaan hamba (terhadap batasan-batasan syariat Allah Ta’ala)" adalah menjaga hak-hak Allah Ta’ala dengan menunaikannya, menjaga batasan-batasan-Nya dengan tidak melanggarnya, dan menjaga perintah dan larangan-Nya dengan melaksanakan semua perintah-Nya dan menjauhi semua larangan-Nya. Dan barang siapa yang melaksanakan hal-hal tersebut di atas, maka dia termasuk orang-orang yang menjaga batasan-batasan (syariat) Allah Ta’ala yang dipuji oleh Allah Ta’ala dalam Al Qur'an (dan hadits Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam), Allah I berfirman:
 
 هَذَا مَاتُوعَدُونَ لِكُلِّ أَوَّابٍ حَفِيظٍ. مَّنْ خَشِيَ الرَّحْمَنَ بِالْغَيْبِ وَجَآءَ بِقَلْبٍ مُّنِيبٍ
“Inilah yang dijanjikan kepadamu, [yaitu] pada setiap hamba yang selalu kembali (kepada Allah I) lagi menjaga (semua peraturan-peraturan-Nya). (Yaitu) orang yang takut kepada Rabb Yang Maha Pemurah sedang Dia tidak kelihatan (olehnya) dan dia datang dengan hati yang bertaubat" (QS. Qaaf:33). Dan "Al Hafiizh" dalam ayat ini ditafsirkan dengan orang yang menjaga perintah-perintah Allah Ta’ala, dan orang yang menjaga dosa-dosanya dengan (segera) bertaubat (kepada Allah) dari dosa-dosa tersebut [lihat Jami’ul ‘Ulum wal Hikam: 462]
BENTUK PENJAGAAN ALLAH
3. Adapun makna "penjagaan Allah Ta’ala terhadap hamba (yang menjaga batasan-batasan syariat-Nya)", maka hal ini meliputi dua macam penjagaan:
1. Penjagaan Allah Ta’ala terhadap hamba dalam urusan-urusan dunianya, seperti penjagaan Allah Ta’ala terhadap (kesehatan) badannya, juga terhadap istri, keturunan dan hartanya. Maka barangsiapa yang menjaga (batasan-batasan syariat)-Nya di masa kecilnya dan dikala (fisiknya masih) kuat, maka Allah Ta’ala  akan menjaganya di masa tuanya dan dikala (fisiknya telah) lemah, dan Allah Ta’ala akan menguatkan pendengaran, penglihatan, kesehatan dan akalnya.
Salah seorang ulama salaf yang telah mencapai usia lebih dari seratus tahun, akan tetapi kondisi fisik dan akalnya tetap kuat, maka suatu hari dia melakukan suatu lompatan yang sangat kuat, sehingga orang-orang menegurnya, maka dia pun berkata: "(Seluruh) anggota badanku ini sejak kecil (selalu) aku jaga dari perbuatan maksiat, maka Allah Ta’ala pun menjaganya ketika aku telah tua".
Bahkan karena kesalehan seorang hamba Allah Ta’ala akan menjaga keturunannya sepeninggalnya, sebagaimana yang disebutkan dalam firman Allah Ta’ala:
وَكَانَ أَبُوْهمُاَ صَالِحاً
“...Sedang ayah mereka berdua adalah seorang yang saleh” (Al Kahfi:82). Ayat ini berkisah tentang dua anak yatim yang dijaga (oleh Allah Ta’ala) karena kesalehan ayah mereka berdua. Imam Sa'id bin Musayyib berkata kepada putranya: "Sungguh aku akan memperbanyak shalat (sunnah)ku demi kamu, dengan harapan (Allah akan) menjagamu (sepeninggalku nanti)", kemudian dia membaca ayat tersebut di atas.
Imam 'Umar bin 'Abdil 'Aziz berkata: "Tidak ada seorang mukmin pun yang meninggal dunia, kecuali Allah Ta’ala akan menjaga keturunan dan anak cucunya".
Dan barangsiapa yang menjaga (batasan-batasan syariat) Allah Ta’ala, maka Allah Ta’ala akan menjaganya dari semua gangguan, telah berkata salah seorang ulama salaf: "Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah Ta’ala, maka (berarti) dia telah menjaga dirinya, dan barangsiapa yang berpaling dari ketakwaan kepada Allah Ta’ala, maka (berarti) dia telah menyia-nyiakan dirinya, dan Allah Ta’ala tidak butuh kepadanya".
     2. Penjagaan Allah terhadap hamba dalam agama dan keimanannya, dan penjagaan ini adalah penjagaan yang paling utama. Allah menjaga hamba ini dalam kehidupannya dari fitnah-fitnah syubhat (kerancuan dalam memahami agama/pengkaburan yang benar dan yang batil) yang menyesatkan dan fitnah-fitnah syahwat (memperturutkan nafsu) yang diharamkan oleh Allah Ta’ala, dan Allah Ta’ala akan selalu menjaga dan meneguhkan imannya sampai di akhir hayatnya dan mewafatkannya dengan husnul khatimah (meninggal dunia di atas keimanan), semoga Allah Ta’ala menganugrahkan kepada kita semua penjagaan ini.
Ibnu 'Abbas ketika menafsirkan firman Allah Ta’ala:
وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ يَحُوْلُ بَيْنَ الْمَرْءِ وَقَلْبِهِ
“Dan ketahuilah, bahwa sesungguhnya Allah Ta’ala menghalangi (membatasi) antara manusia dan hatinya” (Al Anfaal:24), beliau berkata: "Allah Ta’ala menghalangi orang yang beriman dari perbuatan maksiat yang akan menjerumuskannya ke dalam neraka".
 Allah Ta’ala berfirman tentang Nabi Yusuf ‘alaihis salam:
كَذَلِكَ لِنَصْرِفَ عَنْهُ السُّوْءَ وَالْفَحْشَاءَ إِنَّهُ مِنْ عِبَادِنَا الْمُخْلِصِيْنَ
“Demikianlah, agar Kami memalingkan darinya kemungkaran dan kekejian. Sesungguhnya Yusuf itu termasuk hamba-hamba kami yang terpilih" (QS Yusuf:24) [lihat. Jami’ul ‘Ulum wal Hikam: 465-470].
4. Dan dipahami dari hadits ini, bahwa barangsiapa yang tidak menjaga (batasan-batasan syariat) Allah Ta’ala, dengan tidak mengindahkan perintah-Nya dan melanggar larangan-Nya, maka Allah pun akan menyia-nyiakannya dan menjadikannya lupa akan (kemaslahatan) dirinya sendiri, Allah Ta’ala  berfirman:
نَسُوْا اللهَ فَنَسِيَهُمْ
“Mereka (orang-orang munafik) lupa kepada Allah, maka Allah pun melupakan mereka" (QS At Taubah: 67), dalam ayat lain Allah berfirman:
فَلَمَّا زَاغُوْا أَزَاغَ اللهُ قُلُوْبَهُمْ وَاللهُ لاَ يَهْــدِي الْقَوْمَ الْفَاسِقِيْنَ 
“Maka tatkala mereka berpaling (dari kebenaran), Allahpun memalingkan hati mereka; dan Allah tiada memberi petunjuk kepada kaum yang fasik” (QS. Ash Shaff:5).
Bahkan sampai-sampai Allah Ta’ala menimpakan padanya gangguan dan perlakuan buruk melalui orang-orang yang dekat dengannya, dan yang seharusnya berbuat baik padanya, yaitu keluarga dan kerabatnya. Berkata salah seorang ulama salaf: "Sungguh (setelah) aku berbuat maksiat kepada Allah Ta’ala, maka aku mengenali (dampak buruk) perbuatan maksiat itu ada pada tingkah laku pelayan dan hewan tungganganku"  [lihat. ad-Durarus Saniyyah: 78).
5. Makna sabda Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam: "… Maka kamu akan mendapati Allah di hadapanmu…" adalah: Allah Ta’ala akan selalu bersamamu dalam semua keadaan, Dia akan selalu melindungimu, menolongmu dan menjagamu, dan inilah (yang disebut dengan) "Al Ma'iyyah al Khaashshah" (kebersamaan Allah dengan hambanya yang bersifat khusus) yang mengandung arti pertolongan, dukungan, penjagaan dan perlindungan (dari Allah bagi hambanya) [lihat. Bahjatun Nazhirin: 1/135], sebagaimana firman Allah:
إنَّ اللهَ مَعَ الَّذِيْنَ اتَّقَوْا وَالَّذِيْنَ هُمْ مُحْسِنُوْنَ
”Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang bertaqwa dan orang-orang yang berbuat kebaikan" (QS An Nahl:128), berkata Qotadah: "Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah, maka Allah akan selalu bersamanya, dan barangsiapa yang Allah  selalu bersamanya, maka bersamanya ada kelompok yang tidak terkalahkan, penjaga yang tidak pernah tidur dan pemberi petunjuk yang tidak pernah menyesatkan" [lihat Jami’ul ‘Ulum wal Hikam: 471]
6. Perintah Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam untuk mentauhidkan (mengesakan) Allah dalam meminta (berdo'a) dan memohon pertolongan, dan untuk tidak meminta sesuatu pun kepada makhluk, yang ini sesuai dengan firman Allah:
إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِيْنَ
“Hanya Engkaulah yang kami sembah dan hanya kepada Engkaulah kami mohon pertolongan” (QS Al Faatihah:5), dan dalam hal ini ada dua tingkatan:
Pertama: tingkatan yang wajib, yaitu Tauhid, dengan meminta dan memohon pertolongan kepada Allah semata-semata dan tidak kepada selain-Nya dalam perkara-perkara yang tidak mampu dilakukan kecuali oleh Allah I. Dan inilah yang kita kenal dalam pelajaran Tauhid, bahwa memalingkan do'a dan isti'anah (memohon pertolongan) kepada selain Allah I adalah perbuatan syirik.
Kedua: tingkatan yang mustahab (anjuran), yaitu jika seseorang mampu untuk mengerjakan (sendiri) suatu pekerjaan, maka janganlah dia meminta (pertolongan) kepada siapapun, dan Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam telah mengambil perjanjian dari beberapa orang Sahabat agar mereka tidak meminta apapun kepada manusia, (sampai-sampai) perawi hadits ini berkata: "Maka salah seorang dari mereka ketika cemetinya terjatuh (dari hewan tunggangannya), dia tidak meminta orang lain untuk mengambilkan cemeti tersebut untuknya” [HR. Muslim: 1043], dan dalam hal ini kemampuan masing-masing orang untuk menunaikan tingkatan ini berbeda-beda (sesuai dengan tingkat keimanan mereka) [lihat Syarh al-Arba’in, Shalih Alu Syaikh: 107]
Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam: "(artinya) Senantiasa seseorang itu meminta (kepada makhluk) sampai dia bertemu Allah Ta’ala (pada hari kiamat)  dalam keadaan tidak ada sekerat daging pun pada wajahnya" [Bukhari: 3/338-Fathul Bari dan Muslim: 1040].
Hal ini disebabkan karena meminta kepada makhluk mengharuskan seseorang untuk menunjukkan rasa butuh dan menghinakan (menundukkan) diri di hadapan makhluk, padahal semua ini tidak pantas ditujukan kecuali kepada Allah Ta’ala semata-mata.
Berkata Ibnu Taimiyyah: "Meminta kepada makhluk padanya ada tiga keburukan, keburukan (karena) menunjukkan rasa butuh kepada selain Allah Ta’ala dan ini termasuk satu jenis kesyirikan, keburukan (karena) menyakiti orang yang kita meminta  kepadanya dan ini termasuk satu jenis kezhaliman terhadap makhluk, dan (keburukan karena) menundukkan diri kepada selain Allah Ta’ala dan ini termasuk satu jenis kezhaliman terhadap diri sendiri" [lihat Kitabul Iman: 66] Oleh : Ust. Abdullah Taslim, MA 
 

Copyright 2008 All Rights Reserved | motivasi islami Designed by Bloggers Template | CSS done by Link Building