Tampilkan postingan dengan label pertolongan Allah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label pertolongan Allah. Tampilkan semua postingan

20.10.10

Agar Allah selalu menjaga dan menolong kita


 

يَا غُلاَمُ، إِنِّيْ أُعَلِّمُكَ كَلِمَاتٍ: احْفَظِ اللهَ يَحْفَظْكَ، اِحْفَظِ اللهَ تَجِدْهُ تُجَاهَكَ، إِذَا سَأَلْتَ فَاْسألِ اللهَ، وَإِذَا اسْتَعَنْتَ فَاسْتَعِنْ باِلله 
Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam berwasiat kepada Ibnu Abbas Radhiallahu ‘anhu: "Wahai anak kecil, sungguh aku akan mengajarkan beberapa kalimat (nasehat penting) kepadamu, (maka dengarkanlah baik-baik!): "Jagalah (batasan-batasan syariat) Allah, maka Allah akan menjagamu, jagalah (batasan-batasan syariat) Allah, maka kamu akan mendapati Allah di hadapanmu (selalu bersamamu dan menolongmu), jika kamu (ingin) meminta (sesuatu), maka mintalah  (hanya) kepada Allah, dan jika kamu (ingin) memohon pertolongan, maka mohon pertolonganlah (hanya) kepada Allah...”  [Hadits Shahih, Tuhfatul Ahwadzi no. 2516]
HADITS ini diriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas Radhiallahu ‘anhu, sepupu Nabi yang berjuluk “al-Bahr” (lautan) karena keluasan ilmunya. Ibnu ‘Abbas Radhiallahu ‘anhu adalah putra paman Nabi yang bernama ‘Abbas bin Abdul Muththalib. Ibnu ‘Abbas Radhiallahu ‘anhu lahir 3 tahun sebelum Nabi hijrah. Beliau wafat di Thaif pada tahun 68 H.
Kedudukan hadits ini sangatlah agung, sampai-sampai Imam Ibnul Jauzi menggambarkan dengan ucapannya: “(Ketika) aku merenungkan dan menghayati (makna) hadits ini, aku tercengang (terpesona) dan nyaris kehilangan akal, duhai, alangkah ruginya (seorang yang) tidak mengetahui hadits ini dan kurang memahami maknanya” [dinukil dari Jami’ul ‘Ulum wal Hikam: 462]
 KANDUNGAN HADITS
1. Penjagaan dari Allah bagi seorang hamba yang menjaga batasan-batasan syariat-Nya. Dalam hal ini berlaku ketentuan  Allah yang disebut al-Jazaa-u min Jinsil ‘Amal (balasan yang sesuai dengan jenis perbuatan), seperti yang  Allah sebutkan dalam firman-Nya:
 
  فَاذْكُرُوْنِيْ أَذْكُرْكُمْ
“Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku ingat (pula) kepadamu" (QS Al Baqarah:152), dan firman-Nya:
 
يَاأَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا إِنْ تَنْصُرُ اللهَ يَنْصُرْكُمْ
“Hai orang-orang yang beriman, jika kamu menolong (agama) Allah I, niscaya Dia akan menolongmu” (QS Muhammad:7) [lihat Jami'ul 'Ulum wal Hikam: 465].
2. Makna "penjagaan hamba (terhadap batasan-batasan syariat Allah Ta’ala)" adalah menjaga hak-hak Allah Ta’ala dengan menunaikannya, menjaga batasan-batasan-Nya dengan tidak melanggarnya, dan menjaga perintah dan larangan-Nya dengan melaksanakan semua perintah-Nya dan menjauhi semua larangan-Nya. Dan barang siapa yang melaksanakan hal-hal tersebut di atas, maka dia termasuk orang-orang yang menjaga batasan-batasan (syariat) Allah Ta’ala yang dipuji oleh Allah Ta’ala dalam Al Qur'an (dan hadits Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam), Allah I berfirman:
 
 هَذَا مَاتُوعَدُونَ لِكُلِّ أَوَّابٍ حَفِيظٍ. مَّنْ خَشِيَ الرَّحْمَنَ بِالْغَيْبِ وَجَآءَ بِقَلْبٍ مُّنِيبٍ
“Inilah yang dijanjikan kepadamu, [yaitu] pada setiap hamba yang selalu kembali (kepada Allah I) lagi menjaga (semua peraturan-peraturan-Nya). (Yaitu) orang yang takut kepada Rabb Yang Maha Pemurah sedang Dia tidak kelihatan (olehnya) dan dia datang dengan hati yang bertaubat" (QS. Qaaf:33). Dan "Al Hafiizh" dalam ayat ini ditafsirkan dengan orang yang menjaga perintah-perintah Allah Ta’ala, dan orang yang menjaga dosa-dosanya dengan (segera) bertaubat (kepada Allah) dari dosa-dosa tersebut [lihat Jami’ul ‘Ulum wal Hikam: 462]
BENTUK PENJAGAAN ALLAH
3. Adapun makna "penjagaan Allah Ta’ala terhadap hamba (yang menjaga batasan-batasan syariat-Nya)", maka hal ini meliputi dua macam penjagaan:
1. Penjagaan Allah Ta’ala terhadap hamba dalam urusan-urusan dunianya, seperti penjagaan Allah Ta’ala terhadap (kesehatan) badannya, juga terhadap istri, keturunan dan hartanya. Maka barangsiapa yang menjaga (batasan-batasan syariat)-Nya di masa kecilnya dan dikala (fisiknya masih) kuat, maka Allah Ta’ala  akan menjaganya di masa tuanya dan dikala (fisiknya telah) lemah, dan Allah Ta’ala akan menguatkan pendengaran, penglihatan, kesehatan dan akalnya.
Salah seorang ulama salaf yang telah mencapai usia lebih dari seratus tahun, akan tetapi kondisi fisik dan akalnya tetap kuat, maka suatu hari dia melakukan suatu lompatan yang sangat kuat, sehingga orang-orang menegurnya, maka dia pun berkata: "(Seluruh) anggota badanku ini sejak kecil (selalu) aku jaga dari perbuatan maksiat, maka Allah Ta’ala pun menjaganya ketika aku telah tua".
Bahkan karena kesalehan seorang hamba Allah Ta’ala akan menjaga keturunannya sepeninggalnya, sebagaimana yang disebutkan dalam firman Allah Ta’ala:
وَكَانَ أَبُوْهمُاَ صَالِحاً
“...Sedang ayah mereka berdua adalah seorang yang saleh” (Al Kahfi:82). Ayat ini berkisah tentang dua anak yatim yang dijaga (oleh Allah Ta’ala) karena kesalehan ayah mereka berdua. Imam Sa'id bin Musayyib berkata kepada putranya: "Sungguh aku akan memperbanyak shalat (sunnah)ku demi kamu, dengan harapan (Allah akan) menjagamu (sepeninggalku nanti)", kemudian dia membaca ayat tersebut di atas.
Imam 'Umar bin 'Abdil 'Aziz berkata: "Tidak ada seorang mukmin pun yang meninggal dunia, kecuali Allah Ta’ala akan menjaga keturunan dan anak cucunya".
Dan barangsiapa yang menjaga (batasan-batasan syariat) Allah Ta’ala, maka Allah Ta’ala akan menjaganya dari semua gangguan, telah berkata salah seorang ulama salaf: "Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah Ta’ala, maka (berarti) dia telah menjaga dirinya, dan barangsiapa yang berpaling dari ketakwaan kepada Allah Ta’ala, maka (berarti) dia telah menyia-nyiakan dirinya, dan Allah Ta’ala tidak butuh kepadanya".
     2. Penjagaan Allah terhadap hamba dalam agama dan keimanannya, dan penjagaan ini adalah penjagaan yang paling utama. Allah menjaga hamba ini dalam kehidupannya dari fitnah-fitnah syubhat (kerancuan dalam memahami agama/pengkaburan yang benar dan yang batil) yang menyesatkan dan fitnah-fitnah syahwat (memperturutkan nafsu) yang diharamkan oleh Allah Ta’ala, dan Allah Ta’ala akan selalu menjaga dan meneguhkan imannya sampai di akhir hayatnya dan mewafatkannya dengan husnul khatimah (meninggal dunia di atas keimanan), semoga Allah Ta’ala menganugrahkan kepada kita semua penjagaan ini.
Ibnu 'Abbas ketika menafsirkan firman Allah Ta’ala:
وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ يَحُوْلُ بَيْنَ الْمَرْءِ وَقَلْبِهِ
“Dan ketahuilah, bahwa sesungguhnya Allah Ta’ala menghalangi (membatasi) antara manusia dan hatinya” (Al Anfaal:24), beliau berkata: "Allah Ta’ala menghalangi orang yang beriman dari perbuatan maksiat yang akan menjerumuskannya ke dalam neraka".
 Allah Ta’ala berfirman tentang Nabi Yusuf ‘alaihis salam:
كَذَلِكَ لِنَصْرِفَ عَنْهُ السُّوْءَ وَالْفَحْشَاءَ إِنَّهُ مِنْ عِبَادِنَا الْمُخْلِصِيْنَ
“Demikianlah, agar Kami memalingkan darinya kemungkaran dan kekejian. Sesungguhnya Yusuf itu termasuk hamba-hamba kami yang terpilih" (QS Yusuf:24) [lihat. Jami’ul ‘Ulum wal Hikam: 465-470].
4. Dan dipahami dari hadits ini, bahwa barangsiapa yang tidak menjaga (batasan-batasan syariat) Allah Ta’ala, dengan tidak mengindahkan perintah-Nya dan melanggar larangan-Nya, maka Allah pun akan menyia-nyiakannya dan menjadikannya lupa akan (kemaslahatan) dirinya sendiri, Allah Ta’ala  berfirman:
نَسُوْا اللهَ فَنَسِيَهُمْ
“Mereka (orang-orang munafik) lupa kepada Allah, maka Allah pun melupakan mereka" (QS At Taubah: 67), dalam ayat lain Allah berfirman:
فَلَمَّا زَاغُوْا أَزَاغَ اللهُ قُلُوْبَهُمْ وَاللهُ لاَ يَهْــدِي الْقَوْمَ الْفَاسِقِيْنَ 
“Maka tatkala mereka berpaling (dari kebenaran), Allahpun memalingkan hati mereka; dan Allah tiada memberi petunjuk kepada kaum yang fasik” (QS. Ash Shaff:5).
Bahkan sampai-sampai Allah Ta’ala menimpakan padanya gangguan dan perlakuan buruk melalui orang-orang yang dekat dengannya, dan yang seharusnya berbuat baik padanya, yaitu keluarga dan kerabatnya. Berkata salah seorang ulama salaf: "Sungguh (setelah) aku berbuat maksiat kepada Allah Ta’ala, maka aku mengenali (dampak buruk) perbuatan maksiat itu ada pada tingkah laku pelayan dan hewan tungganganku"  [lihat. ad-Durarus Saniyyah: 78).
5. Makna sabda Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam: "… Maka kamu akan mendapati Allah di hadapanmu…" adalah: Allah Ta’ala akan selalu bersamamu dalam semua keadaan, Dia akan selalu melindungimu, menolongmu dan menjagamu, dan inilah (yang disebut dengan) "Al Ma'iyyah al Khaashshah" (kebersamaan Allah dengan hambanya yang bersifat khusus) yang mengandung arti pertolongan, dukungan, penjagaan dan perlindungan (dari Allah bagi hambanya) [lihat. Bahjatun Nazhirin: 1/135], sebagaimana firman Allah:
إنَّ اللهَ مَعَ الَّذِيْنَ اتَّقَوْا وَالَّذِيْنَ هُمْ مُحْسِنُوْنَ
”Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang bertaqwa dan orang-orang yang berbuat kebaikan" (QS An Nahl:128), berkata Qotadah: "Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah, maka Allah akan selalu bersamanya, dan barangsiapa yang Allah  selalu bersamanya, maka bersamanya ada kelompok yang tidak terkalahkan, penjaga yang tidak pernah tidur dan pemberi petunjuk yang tidak pernah menyesatkan" [lihat Jami’ul ‘Ulum wal Hikam: 471]
6. Perintah Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam untuk mentauhidkan (mengesakan) Allah dalam meminta (berdo'a) dan memohon pertolongan, dan untuk tidak meminta sesuatu pun kepada makhluk, yang ini sesuai dengan firman Allah:
إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِيْنَ
“Hanya Engkaulah yang kami sembah dan hanya kepada Engkaulah kami mohon pertolongan” (QS Al Faatihah:5), dan dalam hal ini ada dua tingkatan:
Pertama: tingkatan yang wajib, yaitu Tauhid, dengan meminta dan memohon pertolongan kepada Allah semata-semata dan tidak kepada selain-Nya dalam perkara-perkara yang tidak mampu dilakukan kecuali oleh Allah I. Dan inilah yang kita kenal dalam pelajaran Tauhid, bahwa memalingkan do'a dan isti'anah (memohon pertolongan) kepada selain Allah I adalah perbuatan syirik.
Kedua: tingkatan yang mustahab (anjuran), yaitu jika seseorang mampu untuk mengerjakan (sendiri) suatu pekerjaan, maka janganlah dia meminta (pertolongan) kepada siapapun, dan Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam telah mengambil perjanjian dari beberapa orang Sahabat agar mereka tidak meminta apapun kepada manusia, (sampai-sampai) perawi hadits ini berkata: "Maka salah seorang dari mereka ketika cemetinya terjatuh (dari hewan tunggangannya), dia tidak meminta orang lain untuk mengambilkan cemeti tersebut untuknya” [HR. Muslim: 1043], dan dalam hal ini kemampuan masing-masing orang untuk menunaikan tingkatan ini berbeda-beda (sesuai dengan tingkat keimanan mereka) [lihat Syarh al-Arba’in, Shalih Alu Syaikh: 107]
Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam: "(artinya) Senantiasa seseorang itu meminta (kepada makhluk) sampai dia bertemu Allah Ta’ala (pada hari kiamat)  dalam keadaan tidak ada sekerat daging pun pada wajahnya" [Bukhari: 3/338-Fathul Bari dan Muslim: 1040].
Hal ini disebabkan karena meminta kepada makhluk mengharuskan seseorang untuk menunjukkan rasa butuh dan menghinakan (menundukkan) diri di hadapan makhluk, padahal semua ini tidak pantas ditujukan kecuali kepada Allah Ta’ala semata-mata.
Berkata Ibnu Taimiyyah: "Meminta kepada makhluk padanya ada tiga keburukan, keburukan (karena) menunjukkan rasa butuh kepada selain Allah Ta’ala dan ini termasuk satu jenis kesyirikan, keburukan (karena) menyakiti orang yang kita meminta  kepadanya dan ini termasuk satu jenis kezhaliman terhadap makhluk, dan (keburukan karena) menundukkan diri kepada selain Allah Ta’ala dan ini termasuk satu jenis kezhaliman terhadap diri sendiri" [lihat Kitabul Iman: 66] Oleh : Ust. Abdullah Taslim, MA 

18.10.10

Perbuatan baik akan menolong Anda

Abdullah bin Umar ra. menceritakan, ia mendengar Rasulullah saw. bersabda bahwa telah pergi tiga golongan dari orang orang sebelum kamu. Mereka menemukan sebuah gua tempat bermalam, dan merekapun masuk ke dalamnya. Tiba-tiba sebuah batu besar jatuh menutup pintu gua, sehingga mereka terkurung di dalamnya.

"Tidak ada yang dapt melepaskan kita dari bencana batu ini, melainkan apabila kita mendoa kepada Allah SWT dengan amal salehmu," kata salah seorang dari mereka.

Mulailah salah seorang di atanra mereka memanjatkan doa. "Ya Allah aku mempunyai ibu bapak yang sudah tua. Biasanya aku tidak mau memberi minum keluarga dan hamba sahayaku, sebelum keduanya selesai minum. Pada suatu hari aku pergi mencari sesuatu, dan beberapa waktu lamanya kemudian aku kembali kepada keduanya sehingga mereka tertidur. Lalu aku memerah susu untuk mereka tetapi setelah kudapati keduanya masih tidur. Aku tidak mau memberikan minuman itu kepada keluarga dan sahayaku, sebelum kedua orang-tauaku itu minum lebih dulu. Lalu aku menunggu beliau berdua bangun dari tidurnya, sedangkan gelas susu tetap kupegang hingga keduanya bangun saat fajar telah menyingsing. Setelah mereka bangun, kuberikan minuman yang telah kusediakan itu. Ya Allah, jika aku berbuat demikian benar-benar karena mencari ridho Engkau, maka bukakanlah untuk kami batu itu.

Maka bergeserlah batu itu sedikit.

Kemudian seorang lagi dari mereka mulai berdoa "Ya Allah, ada seorang gadis cantik yang sangat kucintai. Ia anak pamanku sendiri. Pada suatu waktu aku menginginkan dirinya, tetapi ia menolak permintaanku. Satu tahun kemudian ketika menghadapi musim kemarau, ia datang kepadaku dan aku memberikan kepadanya 120 dinar suapaya ia mau bersenang-senang dengaku. Permintaanku itu diturutinya. Namun sewaktu aku telah berduaan dengannya dan akan melampiaskan hajatku. Ia mengingatkan: kularang kamu merusak kesucianku kecuali dengan cara yang benar (yakni setelah nikah). Karena itu aku tidak jadi menuruti nafsuku. Lalu aku pergi meinggalkannya, meski aku sangat mencintai dan menginginkannya. Dinar yang telah kuberikan kepadanya juga kutinggalkan semua untuknya. Ya Allah jika perbuatanku ini sesuai dengan ridhamu, maka bukakanlah pintu gua ini".

Kemudian batu yang berada di pintu gua itu bergeser sedikit.

Akhirnya orang ketiga dari mereka itu mulai berdoa. "Ya Allah aku pernah mengupah beberapa orang bekerja dan telah kubayar lunas upah mereka kecuali satu orang yang pergi tanpa mengambil upahnya. Kemudian upahnya itu aku gunakan untuk usaha. Beberapa waktu kemudian dia datang kembali meminta upahnya. Aku katakan padanya, bahwa semua biri-biri, unta, dan sahaya it uadalah upahnya.

Ia katakan, "Hai hamba Allah, jangnlah kamu mengolok-olok aku", Aku jawab: "Sungguh aku tidak mengolok-olok Kamu". Maka diambilnya harta itu semuanya tanpa satupun yang ditinggalkannya.

"Ya Allah, apabila yang demikian itu kulakukan semata-mata karena mencari ridha-Mu, mohon bukakanlah pintu ga ini untuk kami."

Kemudian batu di pintu gua itu bergeser lebih besar lagi, sehingga mereka bertiga dapat keluar dari gua tersebut.

Dari kisah ini, kita dapat mengambil pelajaran bahwa orang yang berbakti kepada orang tuanya, orang yang dapat menjaga nafsu, dan juga orang yang jujur/tidak zhalim adalah orang-orang yang ditolong oleh Allah swt dalam masa kesulitan.

Cerita ini disarikan dari bagian buku : Ridho Allah tergantung Ridho Orang Tua. Syamsul Rijal Hamid. Penerbit Cahaya Salam

Agar Allah mnyempurnakan urusan dan menolong kita

Tunaikan hak Allah atas kita, sempurnakanlah urusan kita dengan Allah maka Allah akan menyempurnakan urusan kita, sesungguhnya orang-orang yang paling dermawan didunia adalah orang-orang yang menunaikan hak-hak Allah walaupun dalam hal lain manusia menilainya sebagia orang yang kikir, sesungguhnya orang yang paling kikir adalah orang-orang yang kikir terhadap hak-hak Allah walaupun orang lain melihatnya sebagai orang yang dermawan dalam hal lain. ( Wahab bin munabbih )


INILAH HAK ALLAH ATAS KITA SEMUA
Allah SWT. mempunyai hak yang sangat banyak atas hamba-hamba-Nya, diantaranya adalah:
1. Beriman kepada Allah
Beriman kepada Allah terangkum dalam 4 perkara:
a. Bahwa beriman dengan wujud Allah adalah perkara yang sesuai dengan petunjuk fitrah.
b. Maksud dari beriman kepada Rububiyyah Allah adalah: mengimani bahwa Allah adalah Esa dan Dia adalah Rabb yang tiada sekutu bagi-Nya, Dia adalah pencipta seluruh alam, Yang Mengatur, Yang Menghidupkan dan Mematikan, Dia adalah Yang Maha Pemberi rezeki Yang mempunyai Kekuatan lagi Sangat Kokoh. Dan tak ada satu pun yang mengingkari kerububiyyahan Allah kecuali orang yang sombong lagi keras kepala.
c. Maksud beriman kepada uluhiyyah Allah adalah: mengkhususkan peribadatan hanya untuk Allah
d. Maksud beriman kepada nama-nama dan sifat-sifat Allah adalah: menetapkan nama-nama dan sifat-sifat itu sesuai dengan yang telah ditetapkan Allah sendiri dalam Al Qur’an atau hadits, dari nama-nama dan sifat-sifat yang sesuai dengan makna yang pantas bagi Allah, tanpa adanya Tahrif (perubahan), Ta’thil (peniadaan), Takyif (menanyakan bagaimana) dan Tamtsil (penyerupaan).

2. Nasihat (berlaku ikhlas) kepada Allah
Suatu amalan akan diterima oleh Allah jika memenuhi 2 syarat, yaitu ikhlas dan benar (sesuai dengan Al Qur’an dan hadits). Maksud berlaku ikhlas kepada Allah adalah memperhatikan dengan sungguh-sungguh demi meraih kecintaan Allah dengan menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya, dan lebih mengutamakan Allah dengan melakukan segala sesuatu yang menimbulkan kecintaan-Nya, berupa amalan hati dan seluruh amalan anggota badan, serta menjadikan ibadahnya murni, hanya kepada-Nya dan tanpa menyekutukan-Nya.

3. Bersegera dalam bertaubat
Tidak ada yang mengetahui hari esok, karena itu bersegeralah di dalam bertaubat, jangan sampai menyesal. Bertaubatlah dengan taubat yang sebenar-benarnya, agar Allah mengampuni dosa-dosa kita.

4. Bersabar
Kesabaran itu ada 3 macam, yaitu sabar dalam menaati Allah, sabar dalam menjauhi yang diharamkan Allah, dan sabar atas takdir Allah, baik takdir yang baik maupun yang buruk.

5. Jujur kepada Allah
Jujur kepada Allah dalam setiap ibadah, ketaatan dan pendekatan diri adalah dengan menjadikan kesemua itu hanya untuk Allah, bukan untuk yang lainnya. Jujur kepada Allah akan menjadikan seseorang jujur di hadapan manusia.

6. Merasa selalu diawasi oleh Allah
Sudah seyogyanya bagi setiap orang agar menjadikan dirinya sebagai seorang hamba yang selalu merasa diawasi oleh Allah, merasa Allah selalu ada di dekatnya dan merasa bahwa dirinya selalu terlihat oleh Allah, sehingga ia akan merasa selalu melihat Allah, atau merasa Allah senantiasa melihat dan mengawasi gerak-geriknya.

7. Bertakwa kepada Allah
Takwa artinya menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Takwa itu tempatnya di hati. Akan tetapi, tidak mungkin ada seseorang yang mengaku bertakwa kepada Allah dalam batinnya, sedangkan lahiriahnya bermaksiat kepada Allah.

8. Bertawakkal kepada Allah
Tawakkal adalah jujur dalam menyandarkan hati kepada Allah di dalam mendatangkan kemaslahatan dan menolak kemudharatan dari semua urusan dunia dan akhirat. Tawakkal harus disertai dengan usaha. Tawakkal adalah salah satu dari buah (akibat) dari keyakinan. Sedangkan yakin adalah kekuatannya iman. Maka karena itulah seorang hamba seakan-akan bisa melihat dengan kedua matanya apa saja yang telah dikabarkan Allah dan Rasul-Nya sebagai buah dari keyakinannya yang mantap. Maka, keyakinan adalah kemantapan dan keimanan adalah sesuatu yang tidak diiringi oleh keraguan.

9. Istiqomah (konsisten) di atas agama Allah
Barangsiapa yang selama hidupnya beristiqomah dalam ketaatan kepada Allah dan terus-menerus seperti itu, maka dengan izin Allah , dia akan aman dari setiap kejahatan dan segala kesusahan, serta ia akan menjadi penghuni surga yang kekal di dalamnya.

10. Wajib tunduk kepada Allah, berhukum kepada-Nya serta bersungguh-sungguh mencurahkan jiwa untuk taat kepada-Nya
Allah berfirman:
“Barangsiapa yang tidak berhukum menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang fasik.” (QS. Al Maaidah: 47)

Keimanan seseorang tidak akan baik kecuali memenuhi 3 syarat:
a. Hendaknya setiap ada perbedaan pendapat, keputusannya dikembalikan kepada Allah
b. Hendaknya hatinya merasa lapang dengan hukum Allah ini, serta janganlah dadanya terasa sesak dan sempit karenanya
c. Hendaknya ia menyerahkan dirinya secara sempurna untuk menerima segala hukum yang diwajibkan kepadanya, serta melaksanakan hukum itu tanpa berat hati ataupun ragu-ragu

11. Mencintai Allah
Untuk bisa mencapai manisnya iman kita harus bisa mencintai Allah dan Rasul-Nya melebihi apapun, termasuk diri kita sendiri.
Termasuk cinta kepada Allah adalah menjadikan cinta dan bencinya hanya karena Allah, cinta terhadap kewajiban mengikuti Nabi dengan mentaati segala yang beliau perintahkan dan menjauhi segala yang beliau larang atasnya.

12. Hendaknya hamba menjadikan dirinya selalu dalam keadaan antara khauf (takut) dan raja’ (harap)
Imam Ahmad berkata menerangkan khauf dan raja’, “Seyogyanya setiap orang menjadikan khauf dan raja’nya menjadi satu. Apabila salah satu dari keduanya lebih unggul, maka orang tersebut akan binasa. Karena, jika pada sisi raja’ yang unggul maka ia hanya akan menjadi orang yang merasa aman dari azab Allah. Dan jika pada sisi khauf lebih unggul, maka ia akan menjadi orang yang putus asa dari rahmat Allah, dan keduanya adalah buruk. Akan tetapi, seyogyanya ia menjadikan khauf dan raja’nya satu.”

13. Hendaknya seluruh amalan hamba hanya untuk Allah
Hendaknya seorang hamba tidak berdoa, mendekatkan diri, meminta pertolongan, berkurban, meminta perlindungan, dan melakukan berbagai macam ibadah kecuali kepada Allah. Maka, setiap gerak dan diamnya adalah karena Allah.

Itulah hak-hak Allah atas hamba-Nya. Namun kita juga mempunyai hak atas Allah, yaitu jika kita telah menunaikan hak-hak Allah atas diri kita, maka Allah tidak akan mengazab kita.

Masih tentang hak Allah klik disini
 

Copyright 2008 All Rights Reserved | motivasi islami Designed by Bloggers Template | CSS done by Link Building